Deskripsi soal :
Ada seorang gadis yang bernama Ani yang mana ia adalah seorang santri di suatu pondok pesantren. kegiatan sehari-hari ani adalah mengaji al-Qur’an dan belajar al-Qur’an. Setiap hari ia berkecimpung dengan al-Qur’an. pada suatu hari saat ani mau belajar al-Qur’an ia datang bulan. pada saat diobrak oleh pengurus ani tetap diwajibkan ikut kegiatan belajar al-Qur’an tersebut.
Pertanyaan :
Bagaimanakah hukum perkara yang dilakukan ani tersebut (membaca, memegang/membawa)
jika boleh sebatas manakah hal-hal yang dibolehkan saat kegiatan tersebut?
Jawaban :
Hukum Membaca al-Qur’an saat haid dengan alasan belajar menurut para ulama berbeda pendapat :
Menurut ulama syafi’iyah boleh Apabila bermaksud berdzikir saja, bedo’a, mengharap barokah, menjaga hafalan atau tanpa ada tujuan apapun.
Menurut mazhab malikiyah terdapat dua pembahasan:
Boleh secara mutlak, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang merembes keluar.
Tidak diperbolehkan sebelum mandi hadats, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang mampet. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada qaul dha'if yang memperbolehkannya asalkan haidhnya tidak disertai junub.
Hukum memegang al-Qur’an untuk belajar adalah boleh dengan batasan hanya pada perkara yang dipelajari saja.
Hukum membawa al-Qur’an untuk belajar adalah boleh dengan alasan udzur atau dharurat.
Hukum ngesahi kitab tafsir dengan memegang tulisan al-Qur’an adalah boleh dengan batasan hanya pada perkara yang dipelajari saja.
Perlu diketahui bahwa memegang mushaf dalam konteks tersebut diperbolehkan karena adanya udzur atau dharurat yakni apabila dilarang maka dikhawatirkan akan terputusnya pengetahuan darinya sehingga kebolehannya hanya bersifat seperlunya saja I
barat :
ibarat tentang kebolehan membaca dan tidak bolehnya membaca al-Qur’an
(وَ) الثَّالِثُ ( قِرَاءَةُ ) شَيْءٍ مِنْ ( الْقُرْآنِ ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ، سَوَاءٌ أَقَصَدَ مَعَ ذَلِكَ غَيْرَهَا أَمْ لَا لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ : { لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ }ا
لشَّرْحُ قَوْلُهُ : ( وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ) وَعَنْ مَالِكٍ : يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَعَنْ الطَّحَاوِيِّ يُبَاحُ لَهَا مَا دُونَ الْآيَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ"
Keharaman sebab haid yang ketiga adalah membaca sesuatu dari al-Qur’an, dengan diucapkan atau dengan isyarah dari orang bisu, seperti yang dikatakan Qadhi Husein dalam Fatawinya. Mengingat konteks isyarah diletakkan pada konteksnya hukum berucap pada permasalahan ini, meskipun yang dibaca hanyalah sebagian ayat saja dikarenakan hal itu menunjukkan pada unsur penghinaan. Baik bacaan itu diniati bersama dengan niat yang lain ataupun tidak, berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan lainnya, “Orang yang sedang junub dan orang yang haid tidak diperbolehkan membaca sesuatu dari al-Qur’an. Komentar pensyarah: [Membaca al-Qur’an] dari Imam Malik dijelaskan bahwa diperbolehkan bagi perempuan haid membaca al-Qur’an. Dan dari Ath-Thahawi diterangkan bahwa diperbolehkan bagi dia untuk membaca al-Qur’an namun kurang dari satu ayat, seperti yang dia kutipkan dalam Syarah Al-Kanzu dari kitabnya mazhab Hanafi." (Hasyiyah Bujairimi, 3/259-261)i
barat kesimpulan tentang hukum membaca al-Qur’an madzhab syafi’iyah
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ قَصَدَهُ مَعَ غَيْرِهِ كَالذِّكْرِ وَنَحْوِهِ فَتَحْرُمُ فِيْهِمَا. وَإِنْ قَصَدَ الذِّكْرَ وَحْدَهُ أَوِ الدُّعَاءَ أَوِ التَّبَرُّكَ أَوِ التَّحَفُّظَ أَوْ أَطْلَقُ فَلَا تَحْرُمُ، لِأَنَّهُ عِنْدَ وُجُوْدِ قَرِيْنَةٍ لَا يَكُوْنُ قُرْآنًا إِلَّا بِالْقَصْدِ. وَلَوْ بِمَا لَا يُوْجَدُ نَظْمُهُ فِيْ غَيْرِ الْقُرْآنِ، كَسُوْرَةُ الإِخْلَاصِ. (إعانة الطالبين لأبي بكر ابن السيد محمد شطا الدمياطي الجزء: ج ۱ ص، 85)
Bahwasannya bagi orang yang sedang hadats besar (Wanita haidl, nifas, dll), apabila ia bermaksud membaca Al-Qur’an saja, atau bermaksud membaca al-Qur’an bersama yang lain, seperti berdzikir dan semacamnya maka hukumnya haram. Dan apabila bermaksud untuk berdzikir saja, atau berdo’a, atau mengharap barokah, atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun, maka hukumnya tidak haram. Karena apabila ada indikasi, maka yang dibaca bukan disebut dengan Al-Qur'an kecuali disertai dengan niat, dan sekalipun yang dibaca tidak ditemukan susunannya kecuali dalam Al-Qur'an, seperti surat Al-Ikhlas. (I’anah al-Thalibin, 1:85)i
barat tentang ketentuan bolehnya membaca al-Qur’an
تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : {سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا .
كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ .
الشَّرْحُ قَوْلُهُ : ( تَنْبِيهٌ إلَخْ ) هَذَا التَّنْبِيهُ بِمَنْزِلَةِ قَوْلِهِ مَحَلُّ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ إذَا كَانَتْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ أَوْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ ، و إِلَّا فَلَا حُرْمَة.
قَوْلُهُ : ( وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا ) كَمَا لَا يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ الذِّكْرَ فَقَطْ ، فَالصُّوَرُ أَرْبَعَةٌ يَحِلُّ فِي ثِنْتَيْنِ ، وَيَحْرُمُ فِي ثِنْتَيْنِ وَأَمَّا لَوْ قَصَدَ وَاحِدًا لَا بِعَيْنِهِ فَفِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْحُرْمَةُ ؛ لِأَنَّ الْوَاحِدَ الدَّائِرَ صَادِقٌ بِالْقُرْآنِ فَيَحْرُمُ لِصِدْقِهِ بِهِ . قَوْلُهُ : ( لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَخْ ) أَيْ لَا يَكُونُ قُرْآنًا تَحْرُمُ قِرَاءَتُهُ عِنْدَ وُجُودِ الصَّارِفِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَإِلَّا فَهُوَ قُرْآنٌ مُطْلَقًا ، أَوْ الْمَعْنَى لَا يُعْطَى حُكْمَ الْقُرْآنِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَمَحَلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي صَلَاةٍ كَأَنْ أَجْنَبَ وَفَقَدَ الطَّهُورَيْنِ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ بِلَا طُهْرٍ ، وَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ ، فَلَا يُشْتَرَطُ قَصْدُ الْقُرْآنِ ، بَلْ يَكُونُ قُرْآنًا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ لِوُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَا صَارِفَ فَاحْفَظْهُ وَاحْذَرْ خِلَافَهُ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ شَرَفٍ عَلَى التَّحْرِيرِ .
"(Tanbih): Diperbolehkan bagi orang yang mempunyai hadats besar untuk membaca dzikir al-Qur’an dan yang lainnya, seperti mauizhahnya, cerita, dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an, dengan tidak diniatkan pada al-Qur’annya. Seperti perkataanya ketika naik kendaraan :(سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين) dan ketika mendapat musibah dia mengucapkan : (إنا لله وإنا إليه راجعون). Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya. Namun jika dia memaksudkan al-Qur’an saja atau memaksudkan al-Qur’an beserta dzikirnya, maka diharamkan. Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan, sesuai dengan peringatan an-Nawawi dalam kitab Daqaiq, sebab tidak ada unsur penghinaan pada kemuliaan al-Qur'an di sini. Memandang bahwasanya al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali ketika dengan wujudnya niat.
Secara zahir pendapat tersebut berlaku baik pada ayat yang bisa ditemukan susunan kalimatnya di luar al-Qur'an semisal dua ayat di atas, juga basmalah dan al-fatihah. Serta pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an semisal surat al-Ikhlas dan ayat kursi. Benarlah demikian, meski az-Zarkasyi berpendapat tidak diragukannya keharaman pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an. Pendapat az-Zarkasyi ini dianut oleh sebagian ulama mutaakhirin.
Keterangan an-Nawawi tentang kemutlakan tersebut juga terkandung dalam kitab ar-Raudhah. Sedangkan ketika membaca al-Qur'an itu tidak diniatkan pada membaca al-Qur'annya maka diperbolehkan.Komentar pensyarah :[Tanbih dst.] Tanbih ini menempati perkataan mushannif, “Tempat keharaman membaca al-Qur’an adalah ketika dalam pembacaan itu dengan maksud al-Qur’an atau dengan maksud al-Qur’an dan dzikir. Jika tidak memaksudkan dengan itu semua maka tidak diharamkan."[Diperbolehkan dst.] Pembahasan penulis tentang wanita haidh dan nifas, namun bisa dikonfirmasikan juga pembahasan selain keduanya. Cermatilah. (al-Qulyubi)[Seperti mauizhah] Yakni perkara tentang anjuran dan ancaman.[Cerita] Yakni dari kisah umat terdahulu.[Dan hukum yang ada di dalam al-Qur'an] Yakni perkara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.[Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya] Dengan kelepasan bicara.[Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan] Sebagaimana tidak pula diharamkan ketika diniatkan pada dzikirnya saja. Sehingga bisa disimpulkan ada empat situasi pembacaan al-Qur'an di sini. Dua diperbolehkan, dan dua lainnya diharamkan.Sedangkan ketika dia meniatkan pada salah satunya namun tanpa dijelaskan yang mana maka hukumnya khilaf. Menurut qaul Mu'tamad dihukumi haram. Sebab unsur salah satunya bisa dimungkinkan niat pada al-Qur'annya sehingga diharamkan memandang adanya kemungkinan tersebut. [Al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an dst.] Yakni ketika muncul qarinah pembeda maka tidak dianggap sebagai al-Qur'an yang haram dibaca kecuali dengan wujudnya niat. Atau bisa juga diartikan tidak diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali dengan wujudnya niat. Konteks ini mengesampingkan pada kasus shalat, semisal pada orang junub yang tidak bisa bersuci dengan wudhu dan tayammum, lantas dia shalat li hurmatil waqti, membaca al-Fatihah, maka tidak berlaku persyaratan niat membaca al-Qur'an. Bahkan tetap dianggap sebagai hukum bacaan al-Qur'an ketika dimutlakkan sebab tidak ada qarinah pembeda di sini. Camkanlah dan hati-hati terhadap kesalahpahaman tentang hal itu, sebagaimana dituturkan oleh an-Nawawi dalam kitab at-Tahrir." (Hasyiyah al-Bujairimi, 1/259-264).
ibarat tentang pendapat membaca al-Qur'an wanita Haid dalam Madzhab Imam Malik
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا ، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ . وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا ، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ. هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَهُمْ ، لأَنَّهَا قَادِرَةٌ عَلَى التَّطَهُّرِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ ، وَهُنَاكَ قَوْلٌ ضَعِيفٌ هُوَ أَنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إِنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْل الْحَيْضِ . فَإِنْ كَانَتْ جَنْبًا قَبْلَهُ فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ . (الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٨، ص ٣٢٢)
"Kalangan malikiyah berpendapat bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca al-Qur'an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an sampai dia mandi bersuci, baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca, pen).Pendapat di atas adalah qaul mu'tamad, sebab seorang wanita dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut. Namun dalam hal ini ada qaul dha'if yang berpendapat seorang wanita ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur'an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an (sampai dia mandi bersuci).
hukum memegang dan membawa al-Qur’an saat haid
بَقِيَ مَعَنَا حُكْمُ حَمْلِ الْمُصْحَفِ لِغَيْرِ الْحَافِظَاتِ فَإِذَا مَنَعْنَا الطَّالِبَاتِ مِنْ حَمْلِ الْمُصْحَفِ حَالَ الْحَيْضِ خَشَيْنَا فَوَاتَ الْإِخْتِبَارِ. وَحُكْمُ مَسِّ الْمُصْحَفِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ مُحَرَّمٌ عَلَى الْحَائِضِ وَالْجُنُبِ وَالْمُحْدِثِ لَكِنْ هُنَاكَ أَقْوَالٌ لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ. مِنْهُمْ اِبْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَازَهُ لِلْعُذْرِ وَهُوَ فَوَاتُ مَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُفُوْتَ لَكِنْ بِقَدْرِ الضَّرُوْرَةِ وَقَاسُوهُ عَلَى قِرَاءَةِ الصَّبِيِّ وَسَبَقَ الْكَلَامُ عَلَى ذلك في بَابِ نَوَاقِض الوضوء اهـ (شرح الياقوت النفيس فى مذهب إبن إدريس الشافعي: ص ۱۲۱)
Dan saya masih memiliki hukum tentang membawa mushaf untuk selain wanita yang menghafalkan Al-Qur'an. Dan apabila saya melarang kepada para siswi membawa mushaf saat haid, maka saya takut (kuatir) mereka terputus dari pengetahuannya. Sedangkan hukum menyentuh mushaf menurut ulama' Syafi'iyyah hukumnya diharamkan atas wanita haidh, junub dan orang yang berhadats. Akan tetapi ada beberapa pendapat dari sebagian ulama'. termasuk dari mereka adalah Ibnu Taimiyyah yang memperbolehkan pada wanita haidh membawa mushaf karena ada udzur, yaitu terputusnya perkara yang tidak baik untuk ditinggalkan, akan tetapi kebolehan tersebut hanya sebatas jika ada dlorurot. Dan para ulama' menganalogikan kebolehan membawa mushaf tersebut atas pembacaan anak kecil. Dan pembahasannya telah dijelaskan di depan dalam bab nawaqidlil wudlu' (Syarh al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab Ibni Idris al-Syafi’i, 121).
حَمْلُ الْمُصْحَفِ لِلتَّعَلُّمِ : قَالَ أَحَدُ الْعُلَمَاءِ الْمُعَاصِرِينِ فِي حَدِيثِ عَنِ الطَّالِبَاتِ اللَّاتِي يَضْطَرَرْنَ إِلَى حَمْلِ الْمُصْحَفِ لِلدِّرَاسَةِ وَهُنَّ حَائِضَاتٌ إِنَّهُ يَجُوزُ لَهُنَّ ذَلِكَ مُسْتَدِلاً يَقُوْلُ اِبْنُ تَيْمِيَّةَ. وَالَّذِي يَظْهَرُ لِيْ فِى أنَّ الطَّالِبَةَ إِذَا اسْتَطَاعَتْ أَنْ يَسْتَعِينَ بِمَنْ هِيَ طَاهِرَةٌ مِنْ زَمِيْلَاتِها لِتَحْمِلَ لَهَا الْمُصْحَفَ فَلْتَفْعَلْ وَتَكُونُ قِرَاءَتُها بِنِيَّةِ التَّعَلُّمِ بِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهَا حَمْلُهُ وَلَعَلَّ الْعَالِمُ الْمَذْكُورُ أَحَدٌ بِقَوْلِ الظَّاهِرِيَّةِ الَّذِي يُجوِّزُونَ ذلِكَ مُتَأوّلين قَوْلَهُ تَعَالَى (الْمُطَهَّرُوْنَ) بأَنَّهُمُ الْمُسْلِمُونَ أوِ الْمَلَائِكَةُ - إلى أن قال - فَهَذِهِ الْأَقْوَالُ وَأَمْثَالُهَا تُحْمَلُ هَذِهِ الطَّالِبَةُ فِي جَوَازِ حَمْلِ الْمُصْحَفِ وَهِي حَائِضٌ وَلَكِنْ إِجْمَاعُ غَالِبِيَّةِ الْفُقَهَاءِ يَمْنَعُهَا مِنْ ذلِكَ اهـ (شرح الياقوت النفيس فى مذهب إبن إدريس الشافعي: ص 82-81)
hukum membawa mushaf dalam rangka belajar, Salah satu ulama' kontemporer mengutarakan tentang hadits yang menjelaskan para siswi yang terpaksa harus membawa mushaf ketika belajar, sedangkan mereka dalam kondisi haidh. Bahwasannya diperbolehkan bagi para siswi yang sedang haid untuk membawa mushaf, dengan mengambil dalil dari pendapat Ibnu Taimiyyah. Sedangkan pendapat yang jelas menurutku, bahwa siswi (yang haid) jika bisa meminta tolong kepada wanita lain yang suci, dari teman sekolahnya untuk membawakan mushafnya, maka hendaknya ia meminta tolong. Dan ketika membaca Al-Qur'an hendaknya berniat belajar, karena baginya tidak diperbolehkan untuk membawa mushaf. Dan kemungkinan orang yang mengajar di atas mengambil pendapat imam Dawud Dhohiri yang memperbolehkan menta'wili firman Allah SWT (Al-Muthohharuna / orang-orang yang suci), bahwa yang dimaksud mereka adalah orang-orang muslim atau para Malaikat. Beberapa pendapat dan sesamanya di atas, mengarahkan terhadap seorang siswi yang sedang haid tetap diperbolehkan membawa mushaf. Akan tetapi menurut mayoritas ulama tidak memperbolehkannya. (Syarh al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab Ibni Idris al-Syafi’i, 81-82).
وَأَجَازَ الْمَالِكِيَّةُ لِلْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ وَحَمْلَهُ وَمَسَّهُ أَثْنَاءَ التَّعْلِيْمِ وَالتَّعَلُّمِ لِلضَّرُوْرَةِ، كَمَا أَجَازُوْا لَهُمَا الْقِرَاءَةَ فِي غَيْرِ حَالِ التَّعَلُّمِ إِذَا كَانَ يَسِيْراً كَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَآيَاتِ الرُّقْيَةِ لِلتَّدَاوِيْ بِقَصْدِ الْاِسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ (الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي: ج 1، ص 454)
'Ulama' Malikiyyah memperbolehkan pada wanita haidl dan wanita yang sedang nifas membaca Al-Qur'an dan membawanya serta menyentuhnya jika dalam proses belajar mengajar karena dlorurot. Sebagaimana mereka memperbolehkan pada ke-duanya membaca Al- Qur'an diwaktu selain belajar, andaikan itu sedikit. semisal membaca Ayat Kursi, Surat Ihklash, Al-Mu'awwidzatain dan ayat-ayat yang dibuat do'a Tuqiyyah (menyuwuk-jawa) karena untuk pengobatan dengan tujuan agar diberi kesembuhan dengan lantaran Al-Qur'an (al-Fiqh al-Islamiy wa Adillah li al-Zuhaily, 1:454)
اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي مَسِّ الْمُحْدِثِ كُتُبَ التَّفْسِيرِ:
قَال الْحَنَفِيَّةُ: لاَ يَجُوزُ مَسُّ كُتُبِ التَّفْسِيرِ لأَِنَّهُ يَصِيرُ بِمَسِّهِ مَاسًّا لِلْقُرْآنِ وَقَال فِي الْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ: وَيُكْرَهُ مَسُّ كُتُبِ التَّفْسِيرِ وَالْفِقْهِ وَالسُّنَّةِ وَلاَ بَأْسَ بِمَسِّهَا بِالْكُمِّ .
وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: يَجُوزُ مَسُّ كُتُبِ التَّفْسِيرِ وَحَمْلُهَا وَالْمُطَالَعَةُ فِيهَا لِلْمُحْدِثِ وَلَوْ كَانَ جُنُبًا، لأَِنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ التَّفْسِيرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لاَ تِلاَوَتُهُ وَظَاهِرُهُ وَلَوْ كُتِبَتْ فِيهِ آيَاتٌ كَثِيرَةٌ مُتَوَالِيَةٌ وَقَصَدَهَا، خِلاَفًا لاِبْنِ عَرَفَةَ الْقَائِل بِمَنْعِ مَسِّ تِلْكَ التَّفَاسِيرِ الَّتِي فِيهَا الآْيَاتُ الْكَثِيرَةُ مُتَوَالِيَةٌ مَعَ قَصْدِ الآْيَاتِ بِالْمَسِّ.
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: بِحُرْمَةِ حَمْل التَّفْسِيرِ وَمَسِّهِ إِذَا كَانَ الْقُرْآنُ أَكْثَرَ مِنَ التَّفْسِيرِ، وَكَذَلِكَ إِنْ تَسَاوَيَا عَلَى الأَْصَحِّ، وَيَحِل مَسُّهُ إِذَا كَانَ التَّفْسِيرُ أَكْثَرَ عَلَى الأَْصَحِّ، وَفِي رِوَايَةٍ: يَحْرُمُ لإِخْلاَلِهِ بِالتَّعْظِيمِ، وَقَال النَّوَوِيُّ: إِنْ كَانَ التَّفْسِيرُ أَكْثَرَ فَفِيهِ أَوْجُهٌ أَصَحُّهَا لاَ يَحْرُمُ، لأَِنَّهُ لَيْسَ بِمُصْحَفٍ .
وَقَال الْحَنَابِلَةُ: بِجَوَازِ مَسِّ كِتَابِ التَّفْسِيرِ وَنَحْوِهِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ وَعَلَيْهِ الأَْصْحَابُ وَحَكَى الْقَاضِي رِوَايَةً بِالْمَنْعِ وَالصَّحِيحُ جَوَازُ مَسِّ كُتُبِ التَّفْسِيرِ بِدَلِيل أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَتَبَ إِلَى قَيْصَرَ كِتَابًا فِيهِ آيَةٌ وَلأَِنَّهَا لاَ يَقَعُ عَلَيْهَا اسْمُ الْمُصْحَفِ وَلاَ تَثْبُتُ لَهَا حُرْمَتُهُ . (الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٣٧، ص ١٨٠)
.jpeg)
Posting Komentar untuk "FMPPN PUTRI Ke-02 (Wanita Haid Belajar al-Qur'an) "