Deskripsi soal :
Ada seorang gadis yang bernama Ani yang mana ia adalah lulusan dari sebuah pesantren, dulu ia pernah mengaji bahwa dagu adalah termasuk bagian aurat. tetapi ketika dia pulang kebanyakan ibu-ibu di daerahnya ketika shalat tidak menutup dagunya.
Pertanyaan : Bagaimanakah hukum shalat ibu-ibu tersebut?
Jawaban :
Sah apabila ibu ibu tersebut tidak mengetahui batasan bawah dagu adalah termasuk aurat dalam sholat.
Tidak sah apabila ibu ibu tersebut mengetahui batasan bawah dagu adalah termasuk aurat dalam sholat.
Ibarat :
اِنْكِشَافُ مَا تَحْتَ الذَّقَنِ مِنْ بَدَنِ الْمَرأة في حال الصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ يَضُرُ فَيَكُونُ مُبْطِلًا لِلصَّلَاةِ والطواف ... هَذَا مَذْهَبُ سَادَتِنَا الشَّافِعِيةِ وأَمَّا عِندَ غَيْرِهِمْ كَالسَّادَةِ الْحَنَفِيَّةِ وَالسَّادَةِ الْمَالِكِيةِ فَإِنْ مَا تَحْتَ الذَّقَن وَنَحْوَهُ لا يُعدُّ كَشَفَهُ مِنَ الْمَرأةِ مُبْطِلًا للصلاة ... وحِينَئِذٍ لَوْ وَقَعَ ذَلِكَ مِنْ الْعَامِيَّاتِ اللَّاتِي لَمْ يَعْرِفْنَ كَيْفِيةَ التَّقْلِيدِ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيةِ فَإِنَّ صَلَاتَهُنَّ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ الْعَامِيَ لَا مَذْهَبَ لَهُ وَحَتَّى مِنَ الْعَارِفَاتِ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِي إذا أرَدْنَ تَقْلِيدَ غَيْرِ الشَّافِعِي مِمَّنْ يَرَى ذَلِكَ فَإِنَّ صلاتُهُنَّ تَكُونُ صَحِيحَةٌ
Terbukanya bagian di bawah dagu bagi perempuan ketika salat dan tawaf merupakan hal fatal yang dapat menyebabkan batalnya salat dan tawaf..... ini dalam madzhab Syafi'i kita. Adapun madzhab selainnya, seperti golongan Hanafi dan Maliki, sesungguhnya terbukanya bagian bawah dagu dan sesamanya bagi perempuan tidak membatalkan salat... Dengan demikian, apabila hal tersebut terjadi pada perempuan awam yang belum mengetahui tata cara mengikuti pendapat madzhab Sya'fi'i, maka salat mereka sah. Karena orang awam tidak memiliki madzhab. Begitu juga bagi perempuan yang mengerti dengan madzhab Syafi'i ketika mereka menghendaki untuk mengikuti pendapat selain Syafi'i. Maka salat mereka juga sah." (Fatawa Ismail Zein, hlm. 52).
Ibarat tentang batasan wajah yang bukan termasuk aurat
وَحَدُّ الْوَجْهِ طُولًا مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ وَتَحْتِ مُنْتَهَى لَحْيَيْهِ وَهُمَا بِفَتْحِ اللَّامِ عَلَى الْمَشْهُورِ الْعَظْمَاتُ اللَّذَانِ تَنْبُتُ عَلَيْهِمَا الْأَسْنَانُ السُّفْلَى
قَوْلُهُ: (وَتَحْتِ مُنْتَهَى) بِالْجَرِّ عَطْفًا عَلَى مَنَابِتِ أَيْ وَهُوَ مَا بَيْنَ رَأْسِهِ وَمَا تَحْتَ إلَخْ. فَالْمُنْتَهَى دَاخِلٌ فِي الْوَجْهِ، أَمَّا لَوْ قَالَ مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ. وَالْمُنْتَهَى أَيْ وَبَيْنَ الْمُنْتَهَى بِدُونِ تَحْتُ لَأَفَادَ أَنَّ الْمُنْتَهَى خَارِجٌ وَلَيْسَ مُرَادًا بَلْ الْمُرَادُ دُخُولُهُ. (تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ١، ص ١٤١)
.jpeg)
Posting Komentar untuk "FMPPN PUTRI Ke-01 (Hukum Dagu Wanita Tebuka saat Shalat)"