ISYMAM

ISYMAM

A.     Definisi dan perbedaan isymam dan rum

isymam adalah menghimpun dua bibir dengan tanpa menutup dua bibir tersebut untuk mengiringi huruf yang disukun seperti bentuk kedua bibir ketika mengucapkan wawu yang bisa dilihat tetapi tidak bisa didengar (tidak bersuara).

Rum adalah memperdengarkan bunyi huruf yang berharakat saat dibaca waqaf dengan suara yang lirih.

Perbedaan/perbandingan antara isymam dengan rum:

ISYMAM

RUM

1.      Menghimpun/mencucukan dua bibir untuk mengiringi huruf yang disukun.

2.      hanya terlihat tetapi tidak bisa didengar (tidak bersuara)

3.      Hanya bisa terjadi pada lafadz yang dibaca rafa’ dan berharakat dzammah

4.      juga hanya bisa terjadi pada akhir kalimat kecuali pada kalimat (تأمنا) di surat yusuf

5.      Bacaan isymam seperti huruf yang dibaca waqaf dengan sukun.

1.      Membaca sepertiga harakat saja

2.      Harakatnya masih terdengar (meskipun lirih)

3.      Terjadi pada lafad yang dibaca rafa’ dan huruf yang berharakat dhammah serta lafad yang dibaca jer dan huruf yang berharakat dhammah.

4.      Rum seperti membaca lafad dengan cara diwashal.

 

‌‌(ثالثا: الإِشْمَامُ) تَعْرِيْفُهُ: هُوَ ضَمُّ الشَّفَتَيْنِ (بِغَيْرِ انْطِبَاقٍ) بعِيْدِ تَسْكِيْنِ الْحَرْفِ كَهَيْئَتِهِمَا عِنْدَ النُّطْقِ بِالْوَاوِ وَهُوَ يُرَى وَلَا يُسْمَعُ. وَلَا يَكُونُ الْإِشْمَامُ إِلَّا فِي الْمَضْمُومِ، وَلَا يَكُونُ الْإِشْمَامُ إِلَّا فِي آخِرِ الْكَلِمَةِ فِيْمَا عَدَا كَلِمَةَ (تَأْمَنَّا) مِنْ سُوْرَةِ يُوسُفَ، وَلَا يَكُونُ الْإِشْمَامُ إِلَّا كَمَا يَكُوْنُ الْوَقْفُ (أَيْ كَمَا يَكُونُ الْوَقْفُ بِالسُّكُونِ الْمَحْضِ)

يَقُولُ الْإِمَامُ الشَّاطِبِى فِى تَعْرِيْفِ الرُّوْمِ وَالْإِشْمَامِ:

وَرُوْمُكَ إِسْمَاعُ الْمُحَرَّكِ وَاقِفًا ... بِصَوْتِ خَفِّىّ كُلَّ دَانٍ تَنَوَّلَا

وَالْإِشْمَامُ إِطْبَاقُ الشِّفَاهِ بُعَيْدِ مَا ... يُسْكَنُ لَا صَوْتٌ هُنَاكَ فَيَحْصُلَا

مُقَارَنَةٌ بَيْنَ الرُّوْمِ وَالْإِشْمَامِ  

الروم

الإشمام

1.    - الإِتْيَانُ بِثُلُثِ الْحَرَكَةِ.

2.    مَسْمُوعٌ.

3.    يَكُوْنُ فِي الْمَرْفُوعِ وَالْمَضْمُومِ وَالْمَجْرُوْرِ وَالْمَكْسُوْرِ.

4.    رُوْمُهُمْ كَمَا وَصْلُهُ

1.    ضَمُّ الشَّفَتَيْنِ بِعِيْدِ تَسْكِيْنِ الْحُرْفِ.

2.    مَرْئِيٌ.

3.    يَكُونُ فِي الْمَرْفُوعِ وَالْمَضْمُومِ.

4.    يَكُونُ كَمَا يَكُونُ الْوَقْفُ بِالسُّكُونِ.

(الميزان في أحكام تجويد القرآن: ص219-220)

Definisi isymam adalah menghimpun dua bibir dengan tanpa menutup dua bibir tersebut untuk mengiringi huruf yang disukun seperti bentuk kedua bibir ketika mengucapkan wawu yang bisa dilihat tetapi tidak bisa didengar (tidak bersuara). Isymam hanya terjadi pada huruf yang berharakat dhammah dan isymam juga hanya bisa terjadi pada akhir kalimat kecuali pada kalimat (تأمنا) di surat yusuf. Isymam juga hanya bisa terjadi pada saat waqaf yaitu seperti waqaf dengan sukun asli. Imam al-Syatibi berkata tentang definisi rum dan isymam: “bacaan rummu adalah memperdengarkan bunyi huruf yang berharakat saat dibaca waqaf.... dengan suara yang lirih sedangkan Isymam adalah menghimpun/menutup bibir untuk mengiringi huruf yang disukun tanpa ada suara disana sehingga dengan seperti itu bacaan isymah dapat diperoleh” perbandingan rum dan isymam

isymam

rum

1.      Menghimpun/mencucukan dua bibir untuk mengiringi huruf yang disukun.

2.      Terlihat

3.      Terjadi pada lafadz yang dibaca rafa’ dan berharakat dzammah

4.      Terjadi seperti huruf yang dibaca waqaf dengan sukun.

1.      Membaca sepertiga harakat saja

2.      Harakatnya masih terdengar (meskipun lirih)

3.      Terjadi pada lafad yang dibaca rafa’ dan huruf yang berharakat dhammah serta lafad yang dibaca jer dan huruf yang berharakat dhammah.

4.      Rum seperti membaca lafad dengan cara diwashal.

 

B.     Faedah rum dan faedah

Faedah rum dan isymam adalah memberikan informasi kepada orang yang mendengar pada harakat asli huruf yang dibaca waqaf seperti lafad نَسْتَعِيْنْ yang dibaca waqaf dengan isymam maka memberikan isyarat bahwa harakat asli Nunnya adalah dhammah.

Oleh karena itu, jika orang membaca al-Qur’an sendiri maka baginya tidak perlu membaca dengan rum dan isymam kecuali kalimat تَأْمَنَّا . sehingga membaca isymam di sirat yusuf ayat 11 hukumnya wajib.

 

فَائِدَةُ الرُّوْمِ وَالْإِشْمَامِ: فَائِدَتُهُمَا إِعْلَامُ السَّامِعِ بِحَرَكَةِ الْحُرْفِ الْمَوْقُوفِ عَلَيْهِ وَعَلَى ذَلِكَ فَإِنْ كَانَ الْقَارِئُ مُنْفَرِدًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ رُوْمٌ وَلَا إِشْمَامٌ عَدَا كَلِمَةَ (تَأْمَنَّا).  (الميزان في أحكام تجويد القرآن: ص220)

Faedah rum dan isymam adalah memberikan informasi kepada orang yang mendengar pada harakat asli huruf yang dibaca waqaf. Oleh karena itu, jika orang membaca al-Qur’an sendiri maka baginya tidak perlu membaca dengan rum dan isymam kecuali kalimat تَأْمَنَّا .

C.      Tempat-tampat yang boleh dibaca isymam, rum, dan waqaf.

ISYMAM

RUM

WAQAF

1.      huruf yang berharakat dhommah dan dibaca rafa’

 

1.      huruf yang berharakat dhommah dan dibaca rafa’

2.      huruf yang berharakat kasrah, beri’rab jer.

 

 

1.      huruf yang berharakat dhommah dan dibaca rafa’

2.      huruf yang berharakat kasrah, beri’rab jer.

3.      ha’ ta’nis

4.      harakat kasrah yang didatangkan pada ha’ta’nis karena bertemunya dua sukun

5.      harakat dhammah pada mim jama’ yang didatangkan ketika bertemu huruf yang sukun

6.      huruf yang sukun ketika dibaca wasal atau waqaf

7.      lafad yang dibaca nasab selain lafad مَنُوْنَ

 

الخلاصة:

١ - يجوز الوقف بالسكون المحض، والروم، والإشمام على المضموم، والمرفوع عدا الهاء والتاء المربوطة.

٢ - يجوز الوقف بالسكون والروم على المكسور والمجرور والمضموم والمرفوع عدا الهاء والتاء المربوطة.

٣ - يجوز الوقف بالسكون فقط على هاء التأنيث وعلى الكسرة التي جيء بها لالتقاء الساكنين وضمة ميم الجمع التي جاء بعدها ساكن، وعلى الساكن وصلا ووقفا، والمنصوب غير المنون.   (الميزان في أحكام تجويد القرآن: ص220)

Kesimpulan: pertama huruf yang berharakat dhommah dan dibaca rafa’ boleh dibaca waqaf dengan sukun asli atau dibaca rum atau isymam kecuali huruf ha’ dan ta’ marbuthah(ة) . kedua huruf yang berharakat kasrah, beri’rab jer dan huruf yang berharakat dhammah dan beri’rab rafa’ boleh dibaca waqaf dengan sukun atau dibaca rum selain huruf Ha’ dan ta’ marbuthah(ة). ketiga boleh dibaca waqaf saja pada ha’ ta’nis dan harakat kasrah yang didatangkan pada ha’ta’nis karena bertemunya dua sukun dan harakat dhammah pada mim jama’ yang didatangkan ketika bertemu huruf yang sukun dan pada huruf yang sukun ketika dibaca wasal atau waqaf  dan lafad yang dibaca nasab selain lafad مَنُوْنَ.(al-Mizan fi Ahkam tajwid al-Qur’an, 220)

D.     Alasan bacaan Isymam di surat yusuf ayat 11

lafad مَا لَكَ لا تَأْمَنَّا dibaca isymam karena kata (لَا تَأْمَنَّا) berasal dari (لَا تَأْمَنُنَا) dengan dua nun. Sedangkan dalam mushaf kata ini tertulis hanya dengan satu buah huruf nun yang ada tasydidnya sehingga wajib hukumnya dibaca isymam atau rum. bahkan jika ada orang yang membaca seperti huruf aslinya maka sama halnya dengan Qira’ah Syadz dan hukumnya haram.

Dengan begitu, cara baca kata ini dengan memadukan keduanya, yakni bunyinya seperti di tulisan mushaf tapi bibirnya seperti melafalkan (لَا تَأْمَنُنَا).

Adapun alasan-alasan lafad tersebut dibaca isymam antara lain:

1.      Agar tidak ada kekhawatiran atau anggapan bahwa (لَا) pada ayat ini merupakan “nahi” yang memiliki fungsi untuk melarang yang artinya “jangan”. Jika dianggap sebagai nahi maka nun yang pertama harus disukun dan menjadi (لَاتَأْمَنْنَا)  kemudian diidghamkan menjadi (لَا تَأْمَنَّا) yang bermakna sungguh janganlah kamu beriman sedangkan ketika diartikan seperti itu malah mengubah makna al-Qur’an. Padalah seharusnya bermakna nafi yang fungsinya untuk memberikan arti “tidak”. Sehingga terjemah surat Yusuf ayat 11 adalah: “Mereka berkata: “Wahai ayah Kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami terhadap Yusuf, Padahal Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya”.

2.      Membaca isymam pada nun yang diidghamkan karena nun tersebut dibaca rafa’ sehingga butuh dibaca isymam untuk menunjukkan tanda kerafa’annya yang ada pada huruf nun tersebut.

 

وأما: {مَا لَكَ لا تَأْمَنَّا} فأصله "لا تأمننا" بنونين على وزن: تعلمنا، وقد قرئ كذلك على الأصل وهي قراءة شاذة؛ لأنها على خلاف خط المصحف؛ لأنه رسم بنون واحدة فاختلفت عبارة المصنفين عن قراءة القراء المشهورين ، (إبراز المعاني من حرز الأماني: ص531)

Sedangkan lafadz لا تَأْمَنَّا asalnya adalah lafadz لَا تَأْمَنُنَا  dengan dua nun mengikuti wazannya lafadz تَعْلَمُنَا dan ketika ada orang yang membacanya lafadz tersebut seperti asalnya maka termasuk qiroat syadzah karena seperti itu menyalahi tulisan mushaf yang ditulis menggunakan satu nun saja. Sehingga ungkapan ulama’ qurro’ yang masyhur akan hal itu masih diperselisihkan.

[يوسف/ 11] فأشمّوا النون المدغمة، لأنّها كانت مرفوعة ليدلّوا بالإشمام على الرّفعة التي كانت في الحرف (الحجة للقراء السبعة: ج 1، ص 213)

Ulama’ qurra’ dalam surat yusuf membaca isymam pada nun yang diidghamkan karena nun tersebut dibaca rafa’ sehingga butuh dibaca isymam untuk menunjukkan tanda kerafa’annya yang ada pada huruf nun tersebut (al-Hujjah li Qurra’ al-Sab’ah, 1:213).

تَأْمَنَّا: أصله: تأمننا، فاجتمع حرفان متحركان من جنس واحد، فاستثقلوا اجتماعهما فسكنوا الأول منهما وأدغموه في الثاني، وبقي الإشمام يدل على ضمة الأولى. والإشمام: ضم الشفتين من غير صوت، وهذا يدركه البصير دون الضرير (التفسير المنير للزحيلي: ج 12، ص 219)

تَأْمَنَّا asalnya adalah تَأْمَنُنَا kemudian ada dua huruf sejenis yang berharakat berkumpul maka berkumpulnya kedua nun tersebut dianggap berat sehingga para ulama mensukun nun yang pertama kemudian diidghamkan pada nun yang kedua dan dibaca isymam untuk menunjukkan bahwa nun pertama itu berharakat dhammah. Isymam adalah menghimpun dua bibir tanpa bersuara. Hal ini hanya bisa dilihat tetapi tidak didengar (al-Tafsir al-Munir li zuhayly, 12:219).

(قالُوا يا أَبانا ما لَكَ لا تَأْمَنَّا عَلى يُوسُفَ) قالوا فعل وفاعل ويا أبانا منادى مضاف وما اسم استفهام مبتدأ ولك خبر ما ولا نافية وتأمنا فعل مضارع وفاعله مستتر تقديره أنت ونا مفعول به وقد أدغمت نون تأمن بنا (إعراب القرآن وبيانه: ج 4، ص 458)

I’rab lafad قالُوا يا أَبانا ما لَكَ لا تَأْمَنَّا عَلى يُوسُفَ : قالوا : susunan fi’il fa’il يا أبانا : munada’ mudhof ما : isim istifham dan menjadi mubtada’ لك : khabarnya ما. لا: huruf nafi. تأمنا: fi’il mudhori’ yang failnya adalah dhlomir mustatir yaitu أنت. نا: maf’ul bih kemudian nunnya lafad ta’manu diidghamkan kepada lafad Na (I’rab al-Qur’an wa Bayanuhu, 4:458).

E.      Macam-macam bacaan لا تَأْمَنَّا menurut qira’at riwayat hafs

bacaan لا تَأْمَنَّا menurut qira’at riwayat hafs ada dua macam bacaan yaitu dengan dibaca isymam atau rum.

Jika dibaca Isymam maka cara bacanya adalah isyarah harakat dhommah dengan menghimbun (mencucu, red:jawa) dua bibir ketika mengucapkan nun dengan disertai bacaan ghunnah.

Jika dibaca Rum maka cara bacanya adalah mengucapkan sepertiga harakat dhommah pada nunnya lafad (تَأْمَنُنَا).

(مباحث في علم القراءات مع بيان أصول رواية حفص: ص107)

في قوله تعالى: ‌ما ‌لَكَ ‌لا ‌تَأْمَنَّا عَلى يُوسُفَ [يوسف: 11] فله في تَأْمَنَّا وجهان:

الأول: الإشمام: وهو الإشارة بضم الشفتين عند نطق النون مع الغنة.

الثاني: الروم: وهو الإتيان بثلث حركة الضم على النون (تَأْمَنُنَا).

وزاد بعض أهل الأداء الاختلاس: وهو الإتيان بثلثي الحركة وهو قريب من الروم

Dalam firman allah yang berbunyi: ما ‌لَكَ ‌لا ‌تَأْمَنَّا عَلى يُوسُفَ terdapat dua bacaan menurut riwayat Imam Hafs . Pertama dibaca isymam yaitu isyarah harakat dhommah dengan menghimbun (mencucu, red:jawa) dua bibir ketika mengucapkan nun dengan disertai bacaan ghunnah. Kedua dibaca rum yaitu mengucapkan sepertiga harakat dhommah pada nunnya lafad (تَأْمَنُنَا) (Mabahis fi Ilm al-Qira’at ma’a Bayani Ushuli Riwayat Hafs, 107).

Posting Komentar untuk "ISYMAM"