IMALAH

 

IMALAH

a)     Definisi dan dasar imalah

Imalah adalah sedikit memiringkan bacaan fathah kepada kasrah atau alif kepada ya’. Nama lain dari imalah adalah idhja’, bathh, sedikit kasrah, taqlil, talthif, antara fathah dan kasrah. Bacaan Imalah merupakan bahasa kebanyakan penduduk Najd, seperti Tamim, Asad, dan Qais. Sehingga “Imalah, dipastikan menjadi bagian dari tujuh bacaan al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah dan menjadi dialek orang-orang Arab”

Dasar bacaan imalah adalah hadits Hudzaifah yang diriwayatkan secara marfu’:

اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا وَإِيَّاكُمْ وَأَصْوَاتِ أَهْلِ الْفِسْقِ وَأَهْلِ الْكِتَابَيْنِ

 “Bacalah Al-Qur’an dengan dialek orang-orang Arab dan suara-suara mereka. Jauhilah suara-suara orang-orang yang fasik dan para pengemban dua kitab.”

وَالْإِمَالَةُ لُغَةُ عَامَّةِ أَهْلِ نَجْدٍ مِنْ تَمِيْمٍ وَأَسَدٍ وَقَيْسٍ قَالَ: وَالْأَصْلُ فِيهَا حَدِيثُ حُذَيْفَةَ مَرْفُوْعًا: "اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا وَإِيَّاكُمْ وَأَصْوَاتِ أَهْلِ الْفِسْقِ وَأَهْلِ الْكِتَابَيْنِ"، قَالَ: فَالْإِمَالَةُ لَا شَكَّ مِنَ الْأَحْرُفِ السَّبْعَةِ وَمِنْ لُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا. وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ الْأَلِفَ وَالْيَاءَ فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ قَالَ يَعْنِي بِالْأَلِفِ وَالْيَاءِ التَّفْخِيمَ وَالْإِمَالَةَ -اِلَى أنْ قَالَ الْإِمَالَةُ: أَنْ يَنْحُوَ بِالْفَتْحَةِ نَحْوَ الْكَسْرَةِ وَبِالْأَلِفِ نَحْوَ الْيَاءِ كَثِيرًا وَهُوَ الْمَحْضُ وَيُقَالُ لَهُ أَيْضًا: الْإِضْجَاعُ وَالْبَطْحُ وَالْكَسْرُ قَلِيلًا وَهُوَ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَيُقَالُ لَهُ أَيْضًا: التَّقْلِيلُ وَالتَّلْطِيفُ وَبَيْنَ بَيْنَ  (الإتقان في علوم القرآن: ج 1، ص 313)

Imalah adalah bahasa kebanyakan penduduk Najd, seperti Tamim, Asad, dan Qais. Dasarnya adalah hadits Hudzaifah yang diriwayatkan secara marfu’, “Bacalah Al-Qur’an dengan dialek orang-orang Arab dan suara-suara mereka. Jauhilah suara-suara orang-orang yang fasik dan para pengemban dua kitab.” Dia berkata lagi, “Imalah, tidak diragukan lagi merupakan salah satu dari huruf-huruf yang tujuh dan termasuk dialek orang-orang Arab serta suara-suara mereka” Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Waki’ bercerita kepada kami: A’masy bercerita kepada kami dari Ibrahim bahwa dia berkata, “Mereka berpendapat bahwa dalam bacaan antara alif dan ya’ itu sama.” Dia berkata, “Yang dia maksud adalah bacaan tafkhim (tebal) dan imalah dengan alif dan ya’. (al-Itqon fi Ulum al-Qur’an, 1:313)

b)     Tujuan

Tujuan membaca imalah itu ada tiga:

1.      Agar diketahui bahwa asal alif itu adalah ya’

2.      Agar diketahui bahwa alif yang asalnya wawu dalam bentuk lain berubah menjadi ya’.

3.      Menyesuaikan dengan kasrah atau ya’ yang bersandingan dengan alif.

 قَالَ الدَّانِيُّ: وَعُلَمَاؤُنَا مُخْتَلِفُونَ أَيُّهُمَا أَوْجَهُ وَأَوْلَى؟ وَأَنَا أَخْتَارُ الْإِمَالَةَ الْوُسْطَى الَّتِي هِيَ بَيْنَ بَيْنَ لِأَنَّ الْغَرْضَ مِنَ الْإِمَالَةِ حَاصِلٌ بِهَا وَهُوَ الإِعْلَامُ بِأَنَّ أَصْلَ الْأَلِفِ الْيَاءُ وَالتَّنْبِيْهُ عَلَى انْقِلَابِهَا إِلَى الْيَاءِ فِي مَوْضِعٍ أَوْ مُشَاكَلَتِهَا لِلْكَسْرِ الْمُجَاوِرِ لَهَا أَوِ الْيَاءِ (الإتقان في علوم القرآن: ج 1، ص 313)

Ad-Dani mengatakan, “Ulama-ulama kita berbeda pendapat: manakah di antara keduanya yang lebih baik? Aku memilih imalah yang sedang antara fathah dan kasrah, sebab tujuan untuk membaca secara imalah itu sudah terpenuhi dengannya, yaitu pemberitahuan bahwa asal dari alif itu adalah ya’ dan untuk memberikan peringatan bahwa pada suatu tempat akan dibalik menjadi ya’ atau untuk menyesuaikan dengan kasrah atau ya’ yang bersandingan dengannya (al-Itqon fi Ulum al-Qur’an, 1:313)

c)     Faedah imalah

Faedah imalah adalah memudahkan pengucapan, karena lidah akan naik dengan fathah dan menurun dengan imalah. Turun itu lebih ringan diucapkan daripada naik.

وَأَمَّا فَائِدَتُهَا فَسُهُولَةُ اللَّفْظِ وَذَلِكَ أَنَّ اللِّسَانَ يَرْتَفِعُ بِالْفَتْحِ وَيَنْحَدِرُ بِالْإِمَالَةِ وَالِانْحِدَارُ أَخَفُّ عَلَى اللِّسَانِ مِنْ الِارْتِفَاعِ فَلِهَذَا أَمَالَ مَنْ أَمَالَ وَأَمَّا مَنْ فَتَحَ فَإِنَّهُ رَاعَى كَوْنَ الْفَتْحِ أَمْتَنَ أَوِ الأَصْلَ (الإتقان في علوم القرآن، ج 1، ص 318)

Adapun faedahnya adalah untuk memudahkan pengucapan, karena lidah itu akan naik dengan fathah dan akan menurun dengan imalah. Penurunan itu lebih ringan daripada kenaikan, karena itulah orang yang membaca dengan imalah beralasan. Adapun orang yang membaca dengan fath, maka mereka memerhatikan bahwa keadaan fath itu lebih kuat dan merupakan dasar (al-Itqon fi Ulum al-Qur’an, 1:318)

d)    Pembagian imalah

Dalam Mushaf yang digunakan oleh umat Islam Indonesia, lafadz yang dibaca imalah ditandai dengan tulisan (إِمَالَةٌ ) kecil diatasnya.

Bacaan imalah dibagi menjadi dua macam yaitu:

1.      Imalah Kubra ( الْإِمَالَةُ الكُبْرٰى )

Imalah Kubra adalah memiringkan bacaan fathah pada kasrah atau memiringkan huruf alif pada huruf ya’ tanpa mengganti huruf asli dan memperjelas atau memperkuat bacaan.

2.      Imalah Shughra ( الْإِمَالَةُ الصُّغْرٰى )

Imalah Shughra adalah memiringkan bacaan fathah pada imalah kubra.

وَتَنْقَسِمُ فِي اصْطِلَاحِ الْقُرَّاءِ قِسْمَيْنِ: كُبْرَى، وَصُغْرَى. فَالْكُبْرَى: أَنْ تُقَرِّبَ الْفَتْحَةَ مِنَ الْكَسْرَةِ وَالْأَلِفَ مِنَ الْيَاءِ مِنْ غَيْرِ قَلَبٍ خَالِصٍ، وَلَا إِشْبَاعَ مُفْرِطٌ، وَهِيَ الْإِمَالَةُ الْمَحْضَةُ، وَتُسَمَّى الْإِضْجَاعَ، وَإِذَا أُطْلِقَتْ الْإِمَالَةُ اِنْصَرَفْتَ إِلَيْهَا. وَالصُّغْرَى: هِيَ مَا بَيْنَ الْفَتْحِ وَالْإِمَالَةِ الْكُبْرَى، وَتُسَمَّى التَّقْلِيْلَ وَبَيْنَ بَيْنَ: أَيْ بَيْنَ لَفْظَيِ الْفَتْحِ وَالْإِمَالَةِ الْكُبْرَى. (الوافي في شرح الشاطبية، ص 140)

e)     Sebab-sebab bacaan imalah

Menurut mayoritas qurra’ sebab bacaan Imalah itu ada 10, sedangkan menurut Syekh Ibn al-Jazari ada 12. Dengan rincian sebagai berikut:

No.

Sebab

Contoh

keterangan

1

·      Alif di dahului Kasrah yang dipisah dengan satu huruf.

·      Fathah dengan syarat:

1.      Tidak ada pemisah antara fathah dan kasrah.

2.      Fathah dan kasrah dipisah dengan satu huruf yang disukun

3.      Fathah dan kasrah dipisah dengan satu huruf yang di fathah sedangkan huruf setelahnya berupa ha’.

كِتَابٌ

 

حِسَابٌ

إِنْسَانٌ

 

2

Ada ya’ mendahului alif dan bersambung dengan alif, atau ada ya’ yang mendahului alif dipisah dengan dua huruf yang salah satunya adalah ha’

الْحَيَاةُ، الْأَيَامَى

يَدُهَا

 

3

Ada kasrah yang terletak setelah alif, baik kasrah asli, atau yang ada karena suatu sebab (seperti perubahan i’rab).

عَابِدٌ

مِنَ النَّاسِ، في النَّارِ

 

4

Ada ya’ yang terletak setelah alif.

مُبَايِعٌ

 

5

Ada kasrah yang yang dikira-kirakan karena asalahnya Kasrah

خَافَ

Asalnya خَوِفَ

6

Ada Alif yang asalnya ya’

يَخْشَى، الْهُدَى

 

asalnya  يَخْشَيُ الْهُدَيُ

7

Kasrah yang ada karena suatu sebab pada beberapa keadaan kata (fi’il madhi yang bertemu dhomir rafa’ mutahhari’)

طَابَ، جَاءَ، شَاءَ

jika bertemu dhomir rafa’ menjadi:

شِئْتَ، جِئْتَ، طِبْتَ

8

Ya’ yang ada karena suatu sebab pada beberapa keadaan kata karena asalnya adalah wawu.

تَلَا، غَزَا

Ketika dimajhulkan menjadi:

تُلِيَ، غُزِيَ

(fi’il madzi majhul)

9

alif yang terletak setelah nun (menurut Imam al-Kisa’i) karena  alif pada لِلّٰهِ  dibaca imalah

إِنَّا لِلّٰهِ

Karena alasan ini lafadz

الضُّحَى

Boleh dibaca imalah.

 10

imalah karena adanya keserupaan yaitu bacaan imalah pada alif ta’nits karena serupa dengan alifnya الهُدَى

الحُسْنَى، مُوْسَى، عِيْسَى

 

11

imalah karena banyaknya penggunaan

مَجْرَاهَا

bacaan imalah yang dilakukan oleh kebanyakan orang terhadap tiga keadaan, seperti yang diriwayatkan oleh pengarang kitab al-Mabhaj.

12

imalah untuk membedakan antara isim dengan harf

يٰس، طٰسمّ

bacaan imalah pada mafatihus suwar (pembukaan-pembukaan surat)

 أما أَسْبَابُهَا فَذَكَرُهَا الْقُرَّاءُ عَشَرَةً قَالَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ: وَهِيَ تَرْجِعُ إِلَى شَيْئَيْنِ: أَحَدُهُمَا الْكَسْرَةُ وَالثَّانِي الْيَاءُ وَكُلٌّ مِنْهُمَا يَكُونُ مُتَقَدِّمًا عَلَى مَحَلِّ الإِمَالَة من الْكلمة أو متاخرا عَنْهُ وَيَكُونُ أَيْضًا مُقَدَّرًا فِي مَحَلِّ الْإِمَالَةِ. وَقَدْ تَكُونُ الْكَسْرَةُ وَالْيَاءُ غَيْرَ مَوْجُودَتَيْنِ فِي اللَّفْظِ وَلَا مُقَدَّرَتَيْنِ فِي مَحَلِّ الْإِمَالَةِ وَلَكِنَّهُمَا مِمَّا يَعْرِضُ فِي بَعْضِ تَصَارِيفِ الْكَلِمَةِ. وَقَدْ تُمَالُ الْأَلِفُ أَوِ الْفَتْحَةُ لِأَجْلِ أَلِفٍ أُخْرَى أَوْ فَتْحَةٍ أُخْرَى مُمَالَةٍ وَتُسَمَّى هَذِهِ إِمَالَةٌ لِأَجْلِ إِمَالَةٍ وَقَدْ تُمَالُ الْأَلِفُ تَشْبِيهًا بِالْأَلِفِ الْمُمَالَةِ.

Para qurra’ menyebutkan ada sepuluh sebab. Ibnul Jazari berkata, “Semua itu kembali kepada dua hal: yang pertama adalah kasrah dan yang kedua adalah ya’. Setiap dari keduanya berada sebelum tempat imalah atau setelah tempat imalah dan kadang-kadang hanya dikira-kira saja pada tempat imalah. Kadang-kadang kasrah dan ya’ itu tidak ada pada lafadznya dan tidak dikira- kirakan pada tempat imalah, tetapi keduanya kadang-kadang ada pada beberapa tashrif-nya. Kadang-kadang alif atau fathah dibaca dengan imalah karena ada alif atau fathah yang lain yang dibaca dengan imalah. Ini disebut bacaan imalah karena ada imalah. Kadang-kadang alif itu dibaca imalah karena diserupakan dengan alif yang dibaca dengan imalah.”

قَالَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ: وَتُمَالُ أَيْضًا بِسَبَبِ كَثْرَةِ الِاسْتِعْمَالِ وَلِلْفَرْقِ بَيْنَ الِاسْمِ وَالْحَرْفِ فَتَبْلُغُ الْأَسْبَابُ اثْنَيْ عَشَرَ سَبَبًا. فَأَمَّا الْإِمَالَةُ لأجل الكسرة السابقة فشر طها أن يكون الفاصل بينها وَبَيْنَ الْأَلِفِ حَرْفًا وَاحِدًا نَحْوُ كِتَابٌ وَحِسَابٌ - وَهَذَا الْفَاصِلُ إِنَّمَا حَصَلَ بِاعْتِبَارِ الْأَلِفِ وَأَمَّا الْفَتْحَةُ الْمُمَالَةُ فَلَا فَاصِلَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْكَسْرَةِ - أَوْ حَرْفَيْنِ أَوَّلُهُمَا سَاكِنٌ نَحْوُ إِنْسَانٌ أَوْ مَفْتُوحَيْنِ وَالثَّانِي هَاءٌ لِخَفَائِهَا.

Ibnu Jazari berkata, “Dan imalah itu kadang-kadang karena banyaknya penggunaan dan untuk membedakan antara isim dengan huruf. Maka jadilah dua belas sebab.

Adapun imalah karena kasrah yang telah lalu maka syaratnya adalah jika pemisah di antaranya dan alif adalah satu huruf, seperti كِتَاب dan حِسَاب  . Pemisah ini terjadi dengan berpedoman kepada alif.

 Adapun fathah yang dibaca dengan imalah, tidak ada pemisah antara fathah dengan kasrah atau dua buah huruf yang awalnya di-sukun, seperti اِنْسَانٌ atau keduanya dibaca fathah dan yang kedua adalah ha’ karena ketersembunyiannya.

وَأَمَّا الْيَاءُ السَّابِقَةُ فَإِمَّا مُلَاصِقَةٌ لِلْأَلِفِ كَالْحَيَاةِ وَالْأَيَامَى أَوْ مَفْصُولَةٌ بِحَرْفَيْنِ أَحَدُهُمَا الْهَاءُ كَيَدِهَا.

Adapun ya’ yang terdahulu kadang-kadang bersambung dengan alif, seperti dan dan kadang-kadang terpisah dengan dua huruf yang salah satunya adalah ha’, seperti: يَدِهَا.

وَأَمَّا الْكَسْرَةُ الْمُتَأَخِّرَةُ فَسَوَاءٌ كَانَتْ لَازِمَةً نَحْوَ عَابِدٍ أَمْ عَارِضَةً نَحْوَ مِنَ النَّاسِ وفي النَّارِ.

Kasrah yang datang kemudian, baik kasrah yang harus ada, seperti  حَيَاةِ، الْأَيَامَى atau yang ada karena suatu sebab, seperti مِنَ النَّاسِ  dan وفي النَّارِ  .

وَأَمَّا الْيَاءُ الْمُتَأَخِّرَةُ فَنَحْوُ: مُبَايِعٌ وَأَمَّا الْكَسْرَةُ الْمُقَدَّرَةُ فَنَحْوَ خَافَ إِذِ الْأَصْلُ خَوِفَ.

Adapun ya’ yang datang kemudian seperti مُبَايِعٌ. Kasrah yang dikira-kira adalah seperti  خَافَ  karena asalnya adalah:  خَوِفَ.

وَأَمَّا الياء المقدرة فنحو: يخشى والهدى وَأَبَى وَالثَّرَى فَإِنَّ الْأَلِفَ فِي كُلِّ ذَلِكَ مُنْقَلِبَةٌ عَنْ يَاءٍ تَحَرَّكَتْ وَانْفَتَحَ مَا قَبْلَهَا.

Adapun ya’ yang dikira-kira adalah seperti يخشى dan الهدى dan أَبَى dan الثَّرَى. Sesungguhnya alif pada semua lafadz itu berasal dari ya’ yang berharakat dan sebelumnya dibaca fathah.

وَأَمَّا الْكَسْرَةُ الْعَارِضَةُ فِي بَعْضِ أَحْوَالِ الْكَلِمَةِ فَنَحْوُ طَابَ وَجَاءَ وَشَاءَ وَزَادَ لِأَنَّ الْفَاءَ تُكْسَرُ مِنْ ذَلِكَ مَعَ ضَمِيرِ الرَّفْعِ الْمُتَحَرِّكِ.

Kasrah yang ada karena suatu sebab pada beberapa keadaan kata, seperti طَابَ، جَاءَ، َشَاءَ karena fa’ fi’ilnya dibaca kasrah ketika bertemu dengan dhamir ta’ fa’il.

وَأَمَّا الْيَاءُ الْعَارِضَةُ كَذَلِكَ نَحْوُ: تَلَا وَغَزَا فَإِنَّ أَلِفَهُمَا عَنْ وَاوٍ وَإِنَّمَا أُمِيلَتْ لِانْقِلَابِهَا يَاءً فِي تُلِيَ وَغُزِيَ..

Adapun ya, yang ada karena suatu sebab pada beberapa keadaan kata adalah seperti تَلَا، غَزَا karena alif-nya berasal dari wawu. Ini dibaca imalah karena akan berubah menjadi ya’ pada تُلِيَ dan غُزِي .

وَأَمَّا الْإِمَالَةُ لِأَجْلِ الْإِمَالَةِ فَكَإِمَالَةِ الْكِسَائِيِّ الْأَلِفَ بَعْدَ النُّونِ مِنْ: {إِنَّا لِلَّهِ} لِإِمَالَةِ الْأَلِفِ مِنْ: "لِلَّهِ " وَلَمْ يُمِلْ: "وَإِنَّا إِلَيْهِ " لِعَدَمِ ذَلِكَ بَعْدَهُ وَجَعَلَ مِنْ ذَلِكَ إِمَالَةَ: الضُّحَى وَالْقُرَى وَضُحَاهَا وَتَلَاهَا.

Adapun imalah karena adanya imalah adalah seperti bacaan imalah oleh Al-Kisa’i terhadap alif yang terletak setelah nun dari karena alif pada إِنَّا لِلَّهِ dibaca imalah. Adapun tidak dibaca imalah karena tidak ada sebab padanya. Dari itulah dibaca imalah juga seperti الضُّحَى، الْقُرَى ، ضُحَاهَا، تَلَاهَا.

وَأَمَّا الْإِمَالَةُ لِأَجْلِ الشَّبَهِ: فَإِمَالَةُ أَلِفِ التَّأْنِيثِ فِي نَحْوِ الحسنى ألف مُوسَى وَعِيسَى لِشَبَهِهَا بِأَلِفِ الْهُدَى.

Adapun imalah karena adanya keserupaan adalah bacaan imalah pada alif ta’nits, seperti الحسنى dan alif pada  مُوسَى dan  عِيسَى karena serupa dengan alif pada الْهُدَى.

وَأَمَّا الْإِمَالَةُ لِكَثْرَةِ الِاسْتِعْمَالِ فَكَإِمَالَةِ: النَّاسِ فِي الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ عَلَى مَا رَوَاهُ صَاحِبُ الْمَبْهَجِ.

Adapun imalah karena banyaknya penggunaan adalah seperti bacaan imalah yang dilakukan oleh manusia terhadap tiga keadaan, seperti yang diriwayatkan oleh pengarang kitab al-Mabhaj.

وَأَمَّا الْإِمَالَةُ لِلْفَرْقِ بَيْنَ الِاسْمِ وَالْحَرْفِ فَكَإِمَالَةِ الْفَوَاتِحِ كَمَا قَالَ سِيبَوَيْهِ إِنَّ إِمَالَةَ بَاءٍ وَتَاءٍ فِي حُرُوفِ الْمُعْجَمِ لِأَنَّهَا أَسْمَاءُ مَا يُلْفَظُ بِهِ فَلَيْسَتْ مِثْلَ مَا ولا وَغَيْرِهِمَا مِنَ الْحُرُوفِ

الإتقان في علوم القرآن، ج 1، ص 315-317)

Adapun imalah untuk membedakan antara isim dengan harf adalah seperti bacaan imalah pada pembukaan-pembukaan surat, seperti yang dikatakan oleh Sibawaih, “Sesungguhnya ba’ dan ta’ dari huruf-huruf kamus dibaca dengan imalah sebagai nama dari yang dilafadzkan dengannya, bukan seperti harf-harf yang lainnya seperti: مَا، لا.

f)      Bacaan imalah menurut para imam qira’ah

semua Imam Qira’ah Sepuluh sepakat bahwa bacaan imalah itu boleh dilafadzkan ketika membaca al-Qur’an kecuali Ibnu Katsir beliau sama sekali tidak membaca imalah pada satu huruf pun pada al-Qur’an. Namun para Imam qira’ah berselisih mengenai lafad-lafad yang dibaca Imalah dalam al-Qur’an. Adapun ringkasannya sebagai berikut:

Nama Imam

Ketentuan imalah

Contoh

Hamzah, Kisa’i, dan Khalaf

Semua alif yang berasal dari ya’ di mana pun berada dalam Al-Qur’an baik pada isim maupun pada fi’il,

الهُدَى والهَوَى، والفَتَى، والعمى، والزِّنَا، وَأَتَى، وَاَبَى، وَسَعَى، وَيَخْشَى وَيَرْضَى، وَاجْتَبَى واشْتَرَى، وَمَثْوَى وَمَأْوَى، وَاَدْنَى وَاَزْكَى

Semua alif ta’nits pada فعْلَى dengan dhammah atau kasrah atau fathah pada fa’-nya.

طُوبَى، بُشْرَى، قُصْوَى، القُرْبَى الأُنْثَى، الدُّنْيَا، إِحْدَى، ذِكْرَى، ،سِیْمَا، ضِیْزَی ،مَوْتَی ،زَمْرَضَی، السَّلْوَى، التَّقْوَى.

Semua kata yang berwazan  فعَالَى dengan dhammah pada fa’ atau fathah,

سُکَارَی ،كُسَالَى، أُسَارَى ويَتَامَى، نَصَارَى، أَيَّامَي

Semua yang ditulis dengan ya’ pada mushaf, kecuali حَتَّى,  إِلَى، عَلَى، لَدَى، مَا زَكَّى maka

tak satupun yang dibaca dengan imalah.

يَا حَسرَتَى، أَنَّى، بَلَى، مَتَى، يَا أَسَفَى، يَا وَيْلَتَى

Semua alif yang berasal dari wawu yang awalnya dibaca kasrah atau dhammah,

الرِّبَا، الضُّحَى، العُلَى

Abu ‘Amr dan Warasy.

Akhir semua ayat dari sebelas surat yang bentuknya satu, yaitu Thaha, an-Najm, Sa’ala, al-Qiyamah, an-Nazi’at, ‘Abasa, al-A’la, as-Syams, al-Lail, adh-Dhuha, dan al-‘Alaq.

فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ أَصۡحَٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِيِّ وَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ

(أخير سورة طه)

Abu ‘Amr

membaca imalah pada setiap ra’ yang terletak setelah alif, dengan wazan apapun.

ذِكْرَى، بُشْرَى، أَسْرَى وَأَرَاهُ، اشْتَرَى، يَرَى الْقُرَى، النَّصَارَى أُسَارَى، سُكَارَى

Lafadz berwazan  فُعْلَى di mana pun berada.

طُوبَى، بُشْرَى، قُصْوَى، القُرْبَى، الأُنْثَى

Abu Amru dan Kisa’i

membaca imalah pada setiap alif yang setelahnya terdapat huruf ra’ yang terletak di akhir kata yang dibaca dengan jar baik

alif itu asli atau tidak..

الدَّارُ، النَّارُ، الْقَهَّارُ الْغَفَّارُ، النَّهَارُ، الدِّيَارُ الْكُفَّارُ، الْإِبْكَارُ

Hamzah

membaca imalah pada ain fi’il dari fi’il madhi dari sepuluh fi’il, di mana pun tempatnya dan bagaimanapun keadaannya.

زَادَ، شَاءَ وَجَاءَ، خَابَ رَانَ، خَافَ، زَاغَ، طَابَ ضَاقَ، حَاقَ

Kisa’i

membaca imalah pada ha’ ta’nits dan huruf sebelumnya pada waktu waqaf secara mutlak yang terletak setelah lima belas huruf yang terkumpul pada perkataan:

فَجَثَتْ زَيْنَبُ لِذَوْدِ شَمْسٍ

ف = خَلِيفَةٌ وَرَأْفَةٌ

ج = وَلِيجَةٌ وَلُجَّةٌ

ث = ثَلَاثَةٍ وَخَبِيثَةٍ

ت = بَغْتَةٌ، الْمَيْتَةُ

 ز = بارزة وأعزة

ي = خشية وشية

ن = سُنَّةٌ وَجَنَّةٌ

ب = حَبَّةٌ وَالتَّوْبَةُ

ل = لَيْلَةٌ وَثُلَّةٌ

ذ = لَذَّةٌ وَالْمَوْقُوذَةُ

و = قَسْوَةٌ والْمَرْوَةُ

د = بَلْدَةٌ وَعِدَّةٌ

ش = الْفَاحِشَةُ وَعِيشَةٌ

م = رَحْمَةٌ وَنِعْمَةٌ

س =الخامسة وخمسة

Hamzah, Kisa’i, Khalaf, Abu Amru, Ibnu Amir, dan Abu Bakr.

Membaca imalah pada

الر

 Adapun Warasy membaca antara imalah dan fath .

الر

Abu Amru, Kisa’i, dan Abu Bakar.

membaca dengan imalah pada pembukaan surat Maryam dan Thaha

كٓهيعٓصٓ، طه 

Hamzah

membaca dengan imalah pada Thaha, tidak pada Maryam.

طه

Tiga imam yang pertama dan Abu Bakar.

membaca dengan imalah dari awal Yasin

يس

Abu Amru, Kisa’i, Hamzah, dan Abu Bakar.

membaca dengan imalah pada طه وطسم وطس dan

ha’ pada حم

طسٓمٓ(1) تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ(2)


أما مَنْ أَمَالَ فَكُلُّ الْقُرَّاءِ الْعَشَرَةِ إِلَّا ابْنَ كَثِيرٍ فَإِنَّهُ لَمْ يُمِلْ شَيْئًا فِي جَمِيعِ الْقُرْآنِ. وَأَمَّا مَا يُمَالُ فَمَوْضِعُ اسْتِيعَابِهِ كُتُبُ الْقِرَاءَاتِ وَالْكُتُبُ الْمُؤَلَّفَةُ فِي الْإِمَالَةِ. وَنَذْكُرُ هُنَا مَا يَدْخُلُ تَحْتَ ضَابِطٍ:

فَحَمْزَةُ وَالْكِسَائِيُّ وَخَلَفٌ أَمَالُوا كُلَّ أَلِفٍ مُنْقَلِبَةٍ عَنْ يَاءٍ حَيْثُ وَقَعَتْ فِي الْقُرْآنِ فِي اسْمٍ أَوْ فِعْلٍ كَالْهُدَى وَالْهَوَى وَالْفَتَى وَالْعَمَى وَالزِّنَا وَأَتَى وَأَبَى وسعى ويخشى ويرضى وَاجْتَبَى وَاشْتَرَى وَمَثْوَى وَمَأْوَى وَأَدْنَى وَأَزْكَى. وَكُلَّ أَلِفِ تَأْنِيثٍ عَلَى فُعْلَى بِضَمِّ الْفَاءِ أَوْ كَسْرِهَا أَوْ فَتْحِهَا كَطُوبَى وَبُشْرَى وَقُصْوَى وَالْقُرْبَى وَالْأُنْثَى وَالدُّنْيَا وَإِحْدَى وَذِكْرَى وَسِيمَا وَضِيزَى وَمَوْتَى وَمَرْضَى وَالسَّلْوَى وَالتَّقْوَى وَأَلْحَقُوا بِذَلِكَ مُوسَى وَعِيسَى وَيَحْيَى. وَكُلَّ مَا كَانَ عَلَى وَزْنِ فُعَالَى بِالضَّمِّ أَوِ الْفَتْحِ كَسُكَارَى وَكُسَالَى وَأُسَارَى وَيَتَامَى وَنَصَارَى وَالْأَيَامَى. وَكُلَّ مَا رُسِمَ فِي الْمَصَاحِفِ بالياء نحو بلى ومتى ويا أسفى ويا ويلتى ويا حسرتى وأنى لِلِاسْتِفْهَامِ وَاسْتُثْنِيَ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى وَإِلَى وَعَلَى وَلَدَى وَمَا زَكَّى فَلَمْ تُمَلْ بِحَالٍ. وَكَذَلِكَ أَمَالُوا مِنَ الْوَاوِيِّ مَا كُسِرَ أَوَّلُهُ أَوْ ضُمَّ وَهُوَ الرِّبَا كَيْفَ وقع والضحى كَيْفَ جَاءَ وَالْقُوَى وَالْعُلَى. وَأَمَالُوا رؤوس الْآيِ مِنْ إِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً جَاءَتْ عَلَى نَسَقٍ وَهِيَ: طه وَالنَّجْمِ وَسَأَلَ وَالْقِيَامَةِ وَالنَّازِعَاتِ وَعَبَسَ وَالْأَعْلَى وَالشَّمْسِ وَاللَّيْلِ وَالضُّحَى وَالْعَلَقِ وَوَافَقَ عَلَى هَذِهِ السُّوَرِ أَبُو عَمْرٍو وَوَرْشٌ. وَأَمَالَ أَبُو عَمْرٍو كُلَّ مَا كَانَ فِيهِ رَاءٌ بعد أَلِفٌ بِأَيِّ وَزْنٍ كَانَ كَذِكْرَى وَبُشْرَى وَأَسْرَى وَأَرَاهُ وَاشْتَرَى وَيَرَى وَالْقُرَى وَالنَّصَارَى وَأُسَارَى وَسُكَارَى وَوَافَقَ عَلَى أَلِفَاتِ فُعْلَى كَيْفَ أَتَتْ. وَأَمَالَ أَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ كُلَّ أَلِفٍ بَعْدَهَا رَاءٌ مُتَطَرِّفَةٌ مَجْرُورَةٌ نَحْوُ الدَّارِ وَالنَّارِ وَالْقَهَّارِ وَالْغَفَّارِ وَالنَّهَارِ وَالدِّيَارِ وَالْكُفَّارِ وَالْإِبْكَارِ وَبِقِنْطَارِ وَأَبْصَارِهِمْ وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا وَحِمَارِكَ سَوَاءٌ كَانَتِ الْأَلِفُ أَصْلِيَّةً أَمْ زَائِدَةً. وَأَمَالَ حَمْزَةُ الْأَلِفَ مِنْ عَيْنِ الْفِعْلِ الْمَاضِي مِنْ عَشَرَةِ أَفْعَالٍ وَهِيَ زَادَ وَشَاءَ وَجَاءَ وَخَابَ وَرَانَ وَخَافَ وَزَاغَ وَطَابَ وَضَاقَ وَحَاقَ حَيْثُ وَقَعَتْ وَكَيْفَ جَاءَتْ. وَأَمَالَ الْكِسَائِيُّ هَاءَ التَّأْنِيثِ وَمَا قَبْلَهَا وَقْفًا مُطْلَقًا بَعْدَ خَمْسَةَ عَشَرَ حَرْفًا يَجْمَعُهَا قَوْلُكَ: "فَجَثَتْ زَيْنَبُ لِذَوْدِ شَمْسٍ "، فَالْفَاءُ كَخَلِيفَةٍ وَرَأْفَةٍ وَالْجِيمُ كَوَلِيجَةٍ وَلُجَّةٍ وَالثَّاءُ كَثَلَاثَةٍ وَخَبِيثَةٍ وَالتَّاءُ كَبَغْتَةٍ وَالْمَيْتَةِ وَالزَّايُ كبارزة وأعزة والياء كخشية وشية وَالنُّونُ كَسُنَّةٍ وَجَنَّةٍ وَالْبَاءُ كَحَبَّةٍ وَالتَّوْبَةِ وَاللَّامُ كَلَيْلَةٍ وَثُلَّةٍ وَالذَّالُ كَلَذَّةٍ وَالْمَوْقُوذَةِ وَالْوَاوُ كَقَسْوَةٍ وَالْمَرْوَةِ وَالدَّالُ كَبَلْدَةٍ وَعِدَّةٍ وَالشِّينُ كَالْفَاحِشَةِ وَعِيشَةٍ وَالْمِيمُ كَرَحْمَةٍ وَنِعْمَةٍ وَالسِّينُ كالخامسة وخمسة. ويفتح مطلقا بعد عشرة حرف وَهِيَ جَاعَ وَحُرُوفُ الِاسْتِعْلَاءِ " قِظَّ خُصَّ ضَغْطٍ " وَالْأَرْبَعَةُ الْبَاقِيَةُ وَهِيَ " أَكْهَرْ " إِنْ كَانَ قَبْلَ كُلٍّ مِنْهَا يَاءٌ سَاكِنَةٌ أَوْ كَسْرَةٌ مُتَّصِلَةٌ أَوْ مُنْفَصِلَةٌ بِسَاكِنٍ يُمِيلُ وإلا يفتح. وَبَقِيَ أَحْرُفٌ فِيهَا خُلْفٌ وَتَفْصِيلٌ وَلَا ضَابِطَ يَجْمَعُهَا فَلْتُنْظَرْ مِنْ كُتُبِ الْفَنِّ. وَأَمَّا فَوَاتِحُ السُّوَرِ فَأَمَالَ الر فِي السُّورِ الْخَمْسَةِ حَمْزَةُ وَالْكِسَائِيُّ وَخَلَفٌ وَأَبُو عَمْرٍو وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو بَكْرٍ وَبَيْنَ بَيْنَ وَرْشٌ. وَأَمَالَ الْهَاءَ مِنْ فاتحة مريم وطه وأبو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَأَبُو بَكْرٍ. وَأَمَالَ حَمْزَةُ وَخَلَفٌ طه دُونَ مَرْيَمَ. وَأَمَالَ الْيَاءَ مِنْ أَوَّلِ مَرْيَمَ مَنْ أَمَالَ الر إِلَّا أَبَا عَمْرٍو عَلَى الْمَشْهُورِ عَنْهُ. وَمِنْ أَوَّلِ يس الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُونَ وَأَبُو بَكْرٍ. وَأَمَالَ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةُ الطَّاءَ من طه وطسم وطس وَالْحَاءَ مَنْ حم فِي السُّوَرِ السَّبْعِ وَوَافَقَهُمْ فِي الْحَاءِ ابْنُ ذَكْوَانَ (الإتقان في علوم القرآن، ج 1، ص 318)

g)     Bacaan imalah dalam surat Hud ayat 41

۞ وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا وَمُرْسٰىهَا ۗاِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Pada ayat tersebut terdapat bacaan imalah yang masyhur yaitu مَجۡر۪ىٰهَا. Semua ulama' qira'at sepakat membaca lafadz tersebut dengan imalah kecuali Ibnu katsir. Menurut Imam Hafs, Hamzah, dan Kisa'i mim pada lafadz tersebut dibaca fathah sedangkan menurut selain mereka mimnya dibaca dhommah. Imam hafs hanya membaca imalah pada surat Hud ayat 41 (مَجۡر۪ىٰهَا) dan tidak membaca imalah selain ditempat tersebut. Sedangkan yang lainnya tidak hanya pada surat hud saja.

31- [وَمَا بَعْدَ رَاءٍ "شَـ"ـاعَ "حُـ"ـكْمًا وَحَفْصُهُمْ ... يُوَالِي بِمَجْرَاهَا وَفي هُودَ أُنْزِلا]

حُكْمًا تَمْيِيْزٌ، ي مَا وَقَعَ مِنَ الْأَلْفَاتِ بَعْدَ رَاءِ فقل شاع حكمه في الإمالة؛ وذلك لما ذكرته من مجاورتها للراء، قال الكسائي: للعرب في كسر الراء رأي ليس لها في غيره، وروي عن أبي عمرو أنه قال: أدركت أصحاب ابن مجاهد وهم لا يكسرون شيئا من القرآن إلا نحو: "وما أدراك"، و"أفترى"، "وترى". أي أمال ذلك حمزة والكسائي وأبو عمرو ومثاله: "ذكرى"، و"اشترى"، و"النصارى"، و"القمر". وتابعهم حفص في إمالة: {مَجْرَاهَا} في سورة هود ولم يمل غيره وهو وحمزة والكسائي يقرءونها بفتح الميم كما يأتي في السورة وغيرهم بالضم وأما إمالة ألف مرساها فلحمزة والكسائي على أصلهما؛ لأنها عن ياء ولم تجاور راء، وقوله: يُوَالِي أي يتابع، ووجه الكلام وحفص يواليهم، فنقل الضمير من يوالي إلى حفص، فقال: وحفصهم يوالي، والكل صواب، وجعل في هذا البيت الإمالة؛ لما بعد الراء وهو الألف على ما ذكرنا أن هذا هو الحق في التعبير عن ذلك وإمالة الراء قبل الألف تبع لها وما ذكره في إمالة: "تراءا" مجاز والله أعلم (إبراز المعاني من حرز الأماني، ص219)

Bacaan bacaan miring yang terjadi setelah ra’ maka katakanlah hukumnya yang masyhur adalah imalah. Hal tersebut karena imalah sering terjadi ketika bersandingan dengan ra’.

Imam al-Kasa`I berkata: orang arab memiliki pandangan membaca imalah ketika ra’ kasroh dan tidak membaca imalah diselain tempat tersebut (ra’). Diriwayatkan dari Abi Amr bahwa ia berkata: ditemui ashabnya Ibn Mujahid tidak meng-Kasroh sebagian ayat dari al-Qur’an kecuali lafadz "وما أدراك"، و"أفترى"، "وترى" , Hamzah, al-Kisa’I, Abu Amr membaca imalah lafadz-lafadz tersebut. Contoh bacaan imalah "ذكرى"، و"اشترى"، و"النصارى"، و"القمر".

Imam Hafs mengikuti mereka dalam membaca imalah lafadz {مَجْرَاهَا} dalam surat Hud tetapi beliau tidak membaca imalah selain lafadz tersebut (مَجْرَاهَا). Imam Hafs, Hamzah, dan al-Kisa’I membaca lafadz tersebut dengan Mim dibaca Fathah(مَجْرَاهَا). Sebagaimana keterangan yang akan datang dalam surat Hud tetapi ulama’ selain Imam Hafs, Hamzah dan al-Kisa’I membaca lafadz tersebut dengan Mim dibaca Dhommah. (مُجْرَاهَا) Adapun bacaan imalah pada alif lafadz (مُرْسَاهَا) itu diberlakukan oleh Hamzah dan al-Kisa’I karena mengikuti gurunya. Sebab alif lafadz (مُرْسَاهَا) itu gantian dari ya’ meskipun tidak bersandingan dengan ro’ . maksud dari lafadz  يُوَالِي  dalam nadzom diatas adalah mengikuti. Sehingga perkataan tersebut diarahkan bahwa Imam Hafs mengikuti mereka (Hamzah, al-Kisa’I, dan ashabnya Ibn Mujahid). Imalah adalah bacaan yang terletak pada huruf alif yang terletak setelah huruf ro’ seperti keterangan yang telah aku sebutkan. Dan pendapat ini adalah pendapat yang benar, sedangkan membaca imalah pada huruf ro’ yang terletak sebelum alif itu hukumnya sama (Ibroz al-Ma’ani min Hirzi al-Amani: 219).

قَوْلُهُ تَعَالَى: {بِسْمِ اللَّهِ مَجْراهَا}. قَرَأَ حَمْزَةُ، وَالْكِسَائِيُّ، وَحَفْصٌ عَنْ عَاصِمٍ، «مَجْرِيهَا» بِالْإِمَالَةِ وَبِفَتْحِ الْمِيمِ. وَالْبَاقُونَ «مُجْرَاهَا» بِضَمِّ الْمِيمِ وَهُمَا مَصْدَرَانِ، فَمَنْ فَتَحَ الْمِيمَ جَعَلَهُ مَصْدَرًا لَجَرِى مَجْرًى، وَمَنْ ضَمَّ جَعَلَهُ مَصْدَرًا لِأَجْرَيْتُهُ، وَالْمَصْدَرُ مِنْ أَفْعَلَ مَفْعَلٌ وَإِفْعَالٌ لَا يَنْكَسِرُ كَقَوْلِهِ: {وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْق  )إعراب القراءات السبع وعللها ط العلمية :ص166)

Imam Hamzah, kisa’i, dan Hafs dari Ashim membaca Firman Allah: مَجْراهَا dengan imalah dan mim dibaca Fathah. Sedangkan selain mereka membaca lafadz tersebut dengan mim dibaca dhommah. Kedua lafadz tersebut adalah masdar. Maka barangsiapa membaca fathah mim pada lafadz مَجْراهَا maka dia menjadikan lafadz tersebut sebagai masdar dari lafadz جَرِى مَجْرًى dan barangsiapa membaca dhommah mimnya dia menjadikan lafadz tersebut sebagai masdar dari lafadz اَجْرَيْتُهُ  yaitu masdarnya lafadz yang mengikuti wazan أَفْعَلَ مَفْعَلٌ  dan mimnya tidak boleh dibaca kasrah(I’rab al-Qira’at al-Sab’u wa Alliliha, 166).

Posting Komentar untuk "IMALAH"