kitab Rohmatul Ummah
باب أسباب الحدث
BAB SEBAB-SEBAB HADATS
الخارج من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع، وأما النادر كالدود من الدبر، والريح من القبل والحصاة والاستحاضة والمذى ينقض أيضاً إلا عند مالك، واستثنى أبو حنيفة الريح من القبل فقال : لا ينقض والمنى ناقض عند الثلاثة. والأصح من مذهب الشافعى أنه لا ينقض وإن أوجب الغسل. وقال أبو حنيفة : ينتقض بكل ذلك وبالمني.
Perkara yang keluar dari qubul atau dubur yakni kencing dan berak, itu dapat membatalkan wudlu' berdasarkan kesepakatan para ulama'. sedangkan sesuatu yang tidak biasa (langka) keluar dari dubur seperti: ulat, angin dari qubul (queff), batu kecil, darah istihadloh, dan madzi itu semuanya dapat membatalkan wudlu' juga, kecuali pendapat imam Malik. Tetapi imam abu Hanifah hanya mengecualikan Queff (angin yang keluar dari qubul) , beliau berpendapat hal itu tidak membatalkan wudlu'. Sedangkan dalam masalah keluarnya "mani" menurut imam Malik, imam abu Hanifah, dan imam Ahmad bin Hanbal termasuk perkara yang membatalkan wudlu'. Tetapi menurut qoul Ashoh dari madzhab Syafi'i "mani" tidak termasuk perkara yang membatalkan wudlu' meskipun mewajibkan mandi jinabah (mandi besar). imam abu Hanifah berkata: wudlu' itu batal disebabkan semua perkara diatas dan keluarnya "mani".
فصل: واتفقوا على أن من مس فرجه بعضو من أعضائه غير يده لا ينتقض وضوؤه. واختلفوا فيمن مس ذكره بيده فقال أبو حنيفة : لا ينتقض وضوؤه مطلقاً على أى وجه كان. وقال الشافعي : ينتقض بالمس بباطن كفه دون ظاهره من غير حائل سواء كان بشهوة أو بغيرها والمشهور عند أحمد أنه ينتقض بباطن كفه وبظاهره، والراجح من مذهب مالك إن مسه بشهوة انتقض وإلا فلا.
para ulama bersepakat bahwasannya menyentuh farji menggunakan beberapa anggota selain tangan tidak membatalkan wudhu. ada perbedaan pendapat dari para ulama' tentang mas'alah "orang yang menyentuh dzakarnya dengan tangan". menurut imam abu Hanifah tidak membatalkan wudhu secara mutlaq baik dengan cara apapun. dan imam Syafi'i berkata hal tersebut dapat membatalkan wudlu' apabila menyentuh dengan telapak tangan bagian dalam bukan telapak tangan bagian luar tanpa menggunakan penghalang. Baik tanpa adanya Syahwat ataupun tidak. Pendapat yang masyhur menurut imam Ahmad menyentuh farji menggunakan telapak tangan bagian dalam ataupun luar itu dapat membatalkan wudlu'. Dan ada pendapat dari imam Malik bahwasannya menyentuh farji dengan adanya syahwat itu dapat membatalkan wudlu' dan ketika tidak adanya syahwat tidak membatalkan wudlu' (baik menggunakan telapak tangan bagian dalam maupun luar).
فصل: وأما مس فرج غيره فقال الشافعي وأحمد ينتقض وضوء الماس صغيراً كان الممسوس أو كبيراً حياً أو ميتاً. وقال مالك : لا ينتقض بمس الصغير. وقال أبو حنيفة : لا ينتقض بحال وهل ينتقض وضوء الممسوس أم لا ؟ قال مالك : ينتقض. وقال أبو حنيفة والشافعي وأحمد لا ينتقض. وأجمعوا على أن لا وضوء على من مس أنثييه ولو من غير حائل. واتفق الثلاثة على أنه لا يجب الوضوء من مس الأمرد ولو بشهوة، وقال مالك بإيجابه، وفيه وجه في مذهب الشافعي .
Fasl: Menyentuh farji orang lain menurut imam Syafi'i dan imam Ahmad : membatalkan wudhu bagi orang yang menyentuhnya baik anak kecil atau dewasa baik hidup atau sudah mati. Sedangkan menurut imam Malik: tidak membatalkan wudlu' bagi orang yang memegang farjinya anak kecil. dan menurut imam abu Hanifah: tidak membatalkan wudhu apabila memegangnya tidak ada unssur kesengajaan. dan apakah batal atau tidak orang yang di pegang?. imam Malik: batal, imam abu Hanifah, imam Syafii, dan imam Ahmad: tidak batal. dan para imam telah sepakat tidak wajib berwudhu lagi apabila memegang testis walaupun tanpa adanya penghalang. imam abu Hanifah, imam Syafi'i, dan imam Ahmad sepakat tidak wajib berwudhu lagi bagi seseorang yang menyentuh amrod walaupun syahwat, sedangkan menurut imam Malik ketika menyentuh amrod dengan syahwat maka wudlu'nya menjadi batal (wajib mengulang wudlu'nya lagi). dan keterangan imam Malik tersebut terdapat juga pada satu qoul imam Syafi'i.
"amrod" adalah seorang pemuda yang tidak tumbuh jenggotnya.
orang yang sudah tua tetapi tidak memiliki rambut di wajahnya tidak bisa dikatakan "amrod", tetapi disebut "tsatun" . maksud dari ungkapan mushonnif : "al-Jamil" itu menurut ibnu Hajar ialah di nisbatkan pada watak orang yang melihat.
sedangkan menurut imam Romli: "al-Jamil" adalah sifat yang dianggap bagus rupanya secara umum bagi orang yang memiliki watak normal.
sehingga melihat "amrod" yang cantik dengan syahwat hukumnya haram.
batasan dapat dikatakan syahwat sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab Ihya': bahwa setiap orang yang terpengaruh oleh cantiknya "amrod" sekiranya tampak dari dirinya perbedaan antara "amrod" dan "multahin" maka dia tidak boleh melihat amrod tersebut. meskipun tidak syahwat. dan ketika dikhawatirkan timbul fitnah maka juga melihatnya.
(I'anah al-Tholibin ala hali Alfadhi Fath al-Muin 3:305).
واختلفوا فيمن مس حلقة الذبر، فقال أبو حنيفة ومالك : لا ينتقض وقال الشافعي وأحمد ينتقض وعن الشافعى قول وعن أحمد رواية أنه لا ينتقض .
ulama' berbeda pendapat bagi orang yang menyentuh halqoh dubur (lubang dubur). imam abu hanifah : tidak batal wudlu'nya, imam abu hanifah dan imam malik : tidak batal wudlu'nya. imam syafi'i dan imam ahmad: membatalkan wudlu'nya. dan dari imam syafi.i berpendapat membatalkan. dan ada sebuah riwayat dari imam ahmad yakni hal tersebut tidak membatalkan.
rois syawir : faruq al-Ismani (087896344578)
refrensi kitab : rohmatul ummah

Posting Komentar untuk "SEBAB - SEBAB HADATS DALAM KITAB ROHMATUL UMMAH"