يجوز ترك استقبال القبلة في صلاة شدّة الخوف ، وصلاة العاجز كمريضٍ لايجد مَنْ يُوَجِّهُهُ لِلْقِبْلَةِ ، ومَرْبُوْطٍ على خَشْبَةٍ ، وغَرِيْقٍ ومَصْلُوْبٍ فَيُصَلِّي عَلَى حَسْبِ حَالِهِ وَيُعِيْدُ ،
boleh tidak menghadap kiblat pada saat shalat syiddatil khouf, dan shalatnya orang yang tidak mampu menghadap kiblat seperti, orang sakit yang tidak menemukan seseorang yang bisa menghadapkan orang sakit tersebut ke arah kiblat, orang yang terikat pada kayu, orang yang tenggelam, orang yang disalib, maka dia melaksanakan shalat dalam kondisinya tetapi wajib i’adah (mengulang shalatnya).
وفي نفل السفر ولو كان السفر قصيرا على المشهور ، وهو مَضْبُوْطٌ بِمَيْلٍ ،
boleh tidak menghadap kiblat saat melaksanakan shalat sunnah meskipun perjalanan dekat (jarak dimana shalat tidak boleh di qashar) menurut qoul masyhur, dibatasi satu mil.
وقيل بأن يخرج إلى محل لا يسمع منه النداء ،
dikatakan juga (pendapat yang lain) perjalanan dekat (safar qashir) itu ketika seseorang keluar menuju suatu tempat yang tidak terdengar nida’ (adzan).
وفي الفقه على المذاهب الأربعة : أما صلاةُ الفرضِ فيجبُ فيها استقبال القبلة مطلقا ، حتى لو دارت السفينة وهو يصلى وجب عليه أن يدور إلى جهة القبلة حيث دارت ،
pandangan fiqih empat madzhab terkait hal tersebut: adapun shalat fardlu maka harus menghadap kiblat secara mutlak, sehingga apabila perahu tersebut berputar-putar sedangkan ia sedang shalat , maka wajib baginya untuk berputar menghadap ke-arah kiblat sekiranya perahu itu berputar.
فإن عجز عن استقبال القبلة صلى على جهة قدرته، ويسقط عنه السجود أيضا إذا عجز عنه ،
tetapi jika seseorang tidak mampu untuk menghadap kiblat maka dia shalat menghadap arah yang ia mampu. dan ia tidak diharuskan sujud ketika ia tidak mampu untuk sujud.
ومحل ذلك إذا خاف خروج الوقت قبل أن تصل السَفِيْنَة أوِ الْقَاطِرَةُ إلى المكانِ الذي يصلي فيه صلاة كامِلَة، ولا تجب عليه الإعادة ، ومثل السفينة القطر البخارية البرية والطائرات الجوية ونحوها إهـ .
ketentuan tersebut berlaku ketika seseorang khawatir keluarnya waktu shalat sebelum kapal atau kereta itu sampai pada tempat yang dapat digunakan untuk shalat secara sempurna, dan ia tidak wajib mengulangi shalat, seperti halnya kapal adalah, kereta api, pesawat terbang, dan sepadannya.
وعليه فيجب استقبال القبلة على من صلى في الطائرة وتصح صلاته ،
berdasarkan keterangan tersebut maka wajib menghadap kiblat bagi orang yang shalat di pesawat terbang dan sah shalatnya.
وقال شيخنا العلامة الفقيه الشيخ إسماعيل عثمان زين المكي رحمه الله تعالى في رسالته إعْلَامُ الزُمْرَةِ السَيَّارَة : إنه لا تصح الصلاة على الطيّارة فرضا أو نفلا لعدم اتصاله بقرار الأرض مباشرة أو بواسطة ،
guru kita yaitu al-Alamah al-Faqih al-Syaikh Ismail Utsman Zain al-Makiy, pada risalahnya yang bernama “I’lamu zumroti sayyaroh”: sesungguhnya shalat di-pesawat terbang itu tidak sah, baik fardlu maupun sunnah, karena tidak ada ketersambungan antara musholli dengan permukaan bumi secara langsung atau secara perantara.
قال رحمه الله تعالى : وعبارة شرح الروض الجزء الأول صفحة (١٣٦) : فرع يشترط في صحة صلاة الفريضة الاستقرار إلخ قال المحشي قوله ( يشترط في صحة صلاة الفريضة الاستقرار) فلو حمله رجلان ووقفا في الهواء أو صلى على دابة سائرة في هَوْدَجْ لم تصح صلاته إهـ.
dan beliau berpendapat, ibarot yang ter-tertera pada syarah roudloh juz pertama halaman 136 itu adalah cabang dari lafadz يشترط في صحة صلاة الفريضة الاستقرار إلخ syaikh muhsyi berpendapat bahwa maksud dari perkataan ( يشترط في صحة صلاة الفريضة الاستقرار)adalah jika dua orang lelaki sedang menandu (membawa) orang yang shalat dan keduanya berdiri di awang-awang, atau seseorang shalat di atas pelana hewan yang sedang berjalan, maka shalatnya tidak sah.
وفي فتح الجواد شرح الإرشاد ومن ثم قال العبادي: يجب وضع القدمين على الأرض فلو أخذ اثنان بِعَضَدَيْهِ ورفعه في الهَوَاء حتى صلى لم تصح أي فلا بد من الإعتماد ولو على أحدهما إهـ .
dalam kitab fathul jawad syarah al-Irsyad syaikh al-Ibadi berkata: wajib meletakkan kedua telapak kaki diatas permukaan bumi, maka apabila ada dua orang yang mengambil dengan kedua lengannya kemudian mengangkat orang tersebut di awang-awang (menandu/di-tandu) sampai ia shalat, maka tidak sah shalatnya. maka wajib berpegangan meskipun pada salah satu kedua orang tersebut.
وفي المجموع للإمام النووي رحمه الله تعالى : فرع في مسائل تتعلق بالقيام إلى أن قال : هذا في استناد لا يسلب اسم القيام، فإِنِ اسْتَنَدَ مُتَّكِئًا بحيث لو رفع عن الأرض قدميه لأمكنه البقاء لم تصح صلاته بلا خلاف ، لأنه ليس بقائم بل معلق نفسه بشئ اهـ .
dalam kitab majmu’ imam nawawi berkata: hukum cabang dalam permasalahan yang berhubungan dengan al-Qiyam sampai beliau mengatakan: hal ini dalam kondisi bersandar itu tidak menghilangkan penyebutan al-Qiyam, maka seandainya seseorang bersandar sekiranya apabila dia mengangkat telapak kakinya dari permukaan bumi maka dia masih mungkin tetap, maka tidak sah shalatnya, tanpa adanya khilaf. karena hal tersebut tidak dinamakan berdiri. tetapi termasuk menggantungkan dirinya pada sesuatu yang lain.
فحاصل هذه العبارات أن الواجب في الصلاة اتصال المصلي بقرار الأرض مباشرة أو بواسطة سواء كانت الصلاة فرضا أو نفلا ، نعم الفريضة يشترط فيها وجوب الاستقرار،
kesimpulan dari ibarot-ibarot ini bahwa yang wajib pada saat shalat adalah ketersambungan musholli dengan permukaan bumi secara langsung atau dengan perantara sesuatu baik shalat fardlu ataupun shalat sunnah, memang benar shalat fardlu itu disyaratkan harus istiqrar (menetap di permukaan bumi).
بخلاف النافلة على الراحلة أو نحوها وهي سائرة كما لا يخفى على من له ملكة فقهية ومعرفة بمدارك المسائل وروية ،
berbeda dengan shalat sunnah yang dikerjakan di atas kendaraan atau sejenisnya yang sedang berjalan sebagaimana tidak ada kekhawatiran pada orang yang memiliki kemampuan paham fiqih, orang yang memiliki pengetahuan terkait pemecahan masalah, dan orang yang memiliki rowiyah (pertimbangan).
إذا تقرر هذا وهو عدم صحة الصلاة في الطيارة بمعنى عدم إجزائها وأنها لا تسقط الفرض عن المكلف فأقول وبالله التوفيق للصواب : إنه يجب على راكب الطيارة إذا دخل وقت الصلاة وهو فيها معلق في الهواء ، ولم يغلب على ظنه أنها تهبط إلى الأرض قبل خروج الوقت أن يصلي فيها كيف أمكنه ولو جالسا في الكرسي بالإيماء، ويكون ذلك الحرمة الوقت لاغير ، فإذا نزل إلى قرار الأرض قضى تلك الصلاة ،
ketika hal ini menjadi suatu ketetapan sehingga tidak adanya keabsahan shalat di pesawat terbang, tetapi pesawat itu tidak bisa menggugurkan kewajiban dari seorang mukallaf, maka aku (ahmad ghozali MF) berpendapat bahwa wajib bagi orang yang menaiki pesawat ketika waktu shalat tiba sedangkan ia mualikun fil hawa’ (posisinya berada di udara) dan ia tidak bisa mengalahkan prasangkanya bahwa pesawat itu mendarat di bumi sebelum keluarnya waktu shalat, maka ia shalat di pesawat sebagaimana ia mampu, meskipun sambil duduk di kursi dengan shalat secara isyarah, untuk shalat seperti itu adalah shalat lihurmatil wakti bukan shalat yang lainnya, maka ketika ia sampai di permukaan bumi, maka ia harus meng-qadla’i shalat tersebut.
وفائدة صلاته في الطيارة لحرمة الوقت أنه لو مات قبل التمكن من القضاء لا يؤاخذ في الآخرة لأنه قد عمل مقدوره وما في وسعه اهـ .
faidah seseorang shalat lihurmatil waqti di pesawat adalah, seandainya ia mati sebelum melaksanakan qadla’ maka ia tidak dituntut di akhirat, karena sesungguhnya ia telah melakukan sesuai dengan kemampuannya dan apa yang ia kuasai.
refrensi: kitab Irsyadul Murid
mutarjim: Muhammad Shofiyulloh
Lokasi:
Berbagi :
Posting Komentar
untuk "KEBOLEHAN TIDAK MENGHADAP KIBLAT"
Posting Komentar untuk "KEBOLEHAN TIDAK MENGHADAP KIBLAT"